Dari Kualifikasi ke Final Grand Slam: Kisah Maja Chwalinska yang Menggetarkan
Baca dalam 60 detik
- Maja Chwalinska melesat 93 peringkat setelah menjadi runner-up Prancis Terbuka, dari peringkat 114 ke 21 dunia.
- Perjalanannya penuh liku: depresi, jeda karier, tanpa sponsor perlengkapan, hingga akomodasi dibantu perusahaan minuman Polandia.
- Kendati belum pasti lolos langsung ke Wimbledon, pencapaiannya di Roland Garros menjadi inspirasi bagi petenis di luar jalur elit.

Maja Chwalinska, petenis Polandia berusia 24 tahun, menutup petualangan luar biasanya di Prancis Terbuka 2025 dengan kekalahan 6-3, 6-2 dari remaja Rusia Mirra Andreeva di partai puncak, Sabtu (8/6). Namun, capaiannya sebagai runner-up menjadi titik balik karier yang dramatis: ia melonjak 93 anak tangga ke peringkat 21 dunia dan mengantongi hadiah 1,4 juta euro—hampir dua kali lipat total pendapatan sepanjang kariernya sebelumnya.
Perjalanan Chwalinska ke final Grand Slam pertama dimulai dari babak kualifikasi pada 18 Mei. Ia harus melewati sembilan kemenangan beruntun, termasuk mengalahkan unggulan-unggulan, sebelum akhirnya berhadapan dengan Andreeva. Bagi petenis yang sebelumnya hanya bermain di level kedua tur wanita Eropa, pencapaian ini bagaikan dongeng yang menjadi nyata. Apalagi, ia memulai turnamen tanpa sponsor perlengkapan dan akomodasinya di Paris dibantu oleh perusahaan minuman Polandia.
Di balik kilau prestasi, Chwalinska pernah bergulat dengan depresi yang memaksanya rehat dari tenis di awal karier profesional. Ia juga merupakan mantan finalis ganda junior Australia Terbuka bersama Iga Swiatek, yang kini menjadi bintang tenis Polandia. "Butuh 18 tahun kerja keras, kesabaran, dan ketekunan. Saya harus melewati banyak hal untuk sampai di posisi ini," ujarnya, seperti dikutip BBC Sport. "Hidup kadang aneh, Anda hanya perlu melakukan hal sendiri dan percaya bahwa semuanya akan 'klik' suatu hari."
Legenda tenis Chris Evert, yang tujuh kali juara Prancis Terbuka, memuji performa Chwalinska. Menurut Evert, pencapaian petenis Polandia itu "sama mengesankannya dengan Andreeva yang memenangi Grand Slam pertama". Evert menambahkan, "Ia kehabisan tenaga hari ini, tapi ia datang dari ketiadaan. Saya suka melihatnya bermain—menghibur, serbabisa, dan menciptakan pukulan yang belum terlihat sejak 1970-an."
Kendati namanya kini melambung, masa depan Chwalinska di Wimbledon belum pasti. Karena peringkatnya masih di luar 100 besar saat batas pendaftaran, ia harus kembali melewati kualifikasi—kecuali mendapat wildcard. Namun, wildcard biasanya diberikan kepada pemain Inggris, pemain berprestasi di rumput, atau nama besar. Kasus serupa menimpa Lois Boisson dari Prancis yang tahun lalu mencapai semifinal Roland Garros namun gagal mendapat wildcard Wimbledon dan akhirnya kalah di babak pertama kualifikasi. Chwalinska sendiri tidak berekspektasi tinggi. "Saya tidak mengharapkannya, tapi akan saya lihat. Saya akan menjadikannya tantangan," katanya.
Bagi Indonesia, kisah Chwalinska menjadi pengingat bahwa jalan menuju puncak tenis tidak selalu linear. Depresi, keterbatasan dana, dan minimnya dukungan sponsor bukanlah akhir. Di tengah dominasi nama-nama besar, pemain dari luar radar tetap bisa bersinar. Pertanyaan besarnya: akankah Wimbledon memberi kesempatan pada petenis Polandia ini untuk melanjutkan dongengnya di permukaan rumput? Atau, seperti banyak pemain lain, ia harus membuktikan diri lagi dari babak kualifikasi?



