Dari 'Pecundang' ke Juara Grand Slam: Zverev Akhiri Penantian Panjang di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Alexander Zverev mengalahkan Flavio Cobolli di final Prancis Terbuka 2025, menjuarai Grand Slam pertamanya setelah melewati cedera parah dan kekalahan pahit.
- Perjalanan Zverev menjadi simbol ketahanan mental dan fisik, dengan tim yang setia menemaninya sejak 2014, termasuk ayahnya sebagai pelatih.
- Kemenangan ini menginspirasi atlet Indonesia untuk tidak menyerah pada kegagalan, mengingat perjuangan panjang Zverev dari keterpurukan ke puncak.
Alexander Zverev akhirnya mengangkat trofi Grand Slam pertamanya di Roland Garros, Minggu (7/6), setelah mengalahkan Flavio Cobolli dalam pertarungan lima set yang menegangkan. Kemenangan 6-1, 4-6, 6-4, 6-7(5), 6-1 ini menjadi puncak perjalanan panjang yang penuh liku, cedera, dan kekecewaan.
Dalam pidato di atas Court Philippe Chatrier, Zverev tak kuasa menahan emosi saat mengenang masa-masa sulit yang ia lalui. “Kami pernah menjadi pecundang di beberapa momen, tapi sekarang kami juara Grand Slam. Itu yang terpenting,” ujarnya kepada tim yang setia mendampinginya. Perjalanan Zverev memang tidak mudah: empat tahun lalu ia meninggalkan Roland Garros dengan kursi roda akibat patah tulang kaki, dan dua tahun lalu ia harus menelan pil pahit kalah di final dari Carlos Alcaraz.
Zverev secara khusus memuji timnya yang tak pernah pergi meski ia berkali-kali jatuh. “Saya mungkin memiliki tim dan pelatih yang paling lama bertahan di tur,” candanya, sambil menyebut ayahnya yang menjadi pelatih dan kakaknya, Mischa, yang tak bisa ia singkirkan. Ia juga berterima kasih kepada pelatih fisiknya yang telah bekerja sejak 2014. Kesetiaan tim ini menjadi fondasi kebangkitannya.
Bagi Cobolli, kekalahan ini terasa pahit namun juga manis. Petenis Italia berusia 23 tahun itu mengakui Zverev pantas menang, tapi berharap suatu hari ia bisa merasakan hal yang sama. “Saya bahagia untukmu, tapi juga sedih karena saya dekat. Lain kali, biarkan saya menang,” ujarnya dengan nada bercanda. Cobolli juga menyampaikan terima kasih kepada pendukungnya yang disebutnya sebagai “tembok biru”, serta kepada legenda Italia Adriano Panatta yang menyerahkan trofi.
Kemenangan Zverev menjadi pelajaran berharga bagi atlet Indonesia, terutama dalam hal ketahanan mental. Di tengah minimnya prestasi tenis Tanah Air di level internasional, kisah Zverev menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir. “Dari cedera parah hingga kalah di final, ia bangkit lagi. Ini bukti bahwa konsistensi dan dukungan tim yang solid bisa mengubah nasib,” kata pengamat olahraga dari Universitas Indonesia, Andi Kurniawan. Menurutnya, atlet Indonesia perlu meniru kegigihan Zverev dalam menghadapi tekanan.
“Kami pernah menjadi pecundang di beberapa momen, tapi sekarang kami juara Grand Slam. Itu yang terpenting.” — Alexander Zverev
Ke depan, tantangan Zverev adalah mempertahankan konsistensi di tengah persaingan ketat dengan Alcaraz, Sinner, dan Djokovic. Bisakah ia mengulang sukses ini di Wimbledon atau US Open? Atau justru Cobolli yang akan menjadi ancaman baru? Satu hal pasti: perjalanan Zverev membuktikan bahwa Grand Slam bukan hanya tentang bakat, tapi juga tentang ketangguhan menghadapi badai.



