Menlu Filipina dan Rubio Bahas Perluasan Koridor Ekonomi Luzon di Washington
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro dan Menlu AS Marco Rubio sepakat memperluas kerja sama ekonomi melalui Koridor Ekonomi Luzon (LEC), proyek trilateral dengan Jepang.
- LEC direncanakan menjadi lokasi pusat kecerdasan buatan (AI) seluas 4.000 acre milik Pax Silica, menandai langkah strategis dalam rantai pasok teknologi global.
- Pertemuan ini juga membahas keamanan maritim dan stabilitas kawasan, dengan penekanan pada diplomasi untuk meredakan ketegangan di Laut China Selatan.

Pemerintah Filipina dan Amerika Serikat (AS) kembali menegaskan komitmen mereka untuk memperdalam hubungan ekonomi bilateral, dengan fokus utama pada pengembangan Koridor Ekonomi Luzon (LEC). Dalam pertemuan di Washington, Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro dan Menlu AS Marco Rubio membahas langkah-langkah konkret untuk memperluas kerja sama, termasuk menjadikan LEC sebagai pusat industri kecerdasan buatan (AI) berskala besar.
LEC merupakan proyek unggulan trilateral yang melibatkan Filipina, AS, dan Jepang. Kawasan ini tidak hanya dirancang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga diproyeksikan menjadi lokasi bagi Pax Silica, sebuah hub AI industri seluas 4.000 acre. Langkah ini menunjukkan ambisi kedua negara untuk memperkuat rantai pasok teknologi global di tengah persaingan ketat dengan China.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan bahwa Rubio menegaskan kembali komitmen Washington untuk mengembangkan LEC dan mencari solusi atas tantangan energi di kawasan. "Sekretaris menekankan kekuatan Aliansi AS-Filipina dan kerja sama yang erat saat kedua negara memperingati 80 tahun hubungan diplomatik dan 75 tahun sebagai sekutu pada 2026," ujar Pigott dalam pernyataannya.
Lazaro menyebut pertemuan tersebut sangat produktif dan berfokus pada penguatan diplomasi ekonomi. "Kami juga menegaskan kembali kerja sama maritim yang kuat dan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, dengan menekankan pentingnya saluran diplomatik untuk meredakan ketegangan," kata Lazaro. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa isu Laut China Selatan tetap menjadi agenda utama dalam hubungan bilateral kedua negara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia perlu mencermati bagaimana proyek LEC dapat mempengaruhi dinamika ekonomi dan keamanan di kawasan. Kehadiran hub AI di Filipina berpotensi menggeser pusat investasi teknologi yang selama ini dinikmati negara-negara Asia Tenggara lainnya. Selain itu, penguatan aliansi AS-Filipina juga dapat mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Laut China Selatan, yang merupakan wilayah vital bagi kepentingan Indonesia.
Dalam rangkaian pertemuan di Washington, Lazaro juga bertemu dengan calon Duta Besar AS untuk Filipina, Lee Lipton, yang dijadwalkan tiba di Manila pada bulan ini. Langkah ini menunjukkan keseriusan kedua negara dalam mempererat hubungan diplomatik dan ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Ke depan, keberhasilan LEC akan sangat bergantung pada kemampuan Filipina dan AS untuk menarik investasi swasta serta mengatasi hambatan infrastruktur dan energi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah proyek ini dapat menjadi model bagi kerja sama ekonomi trilateral lainnya di kawasan Indo-Pasifik, atau justru memicu ketegangan baru dengan aktor-aktor regional lainnya.



