Sarapan ¥100 di Kampus Jepang Terancam, Sponsor Perusahaan Jadi Penyelamat
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga pangan membuat program sarapan murah ¥100 di universitas Jepang sulit dipertahankan.
- Sejumlah kampus mulai menggandeng perusahaan lokal sebagai sponsor untuk menutup biaya operasional.
- Mahasiswa Jepang terhimpit biaya hidup tinggi, dengan uang saku bulanan turun 30% sejak 1994.

Antrean panjang membentang di kafetaria kampus-kampus Jepang setiap pagi, bukan untuk menu biasa, melainkan sarapan seharga ¥100 (sekitar Rp11.000). Program yang awalnya dirancang untuk membiasakan mahasiswa sarapan kini menjadi penyelamat di tengah meroketnya biaya hidup. Namun, lonjakan harga pangan mengancam keberlangsungan program ini, memaksa universitas mencari cara kreatif agar tetap berjalan.
Musashino University di Tokyo menjadi salah satu yang terdepan. Sejak April 2026, kampus ini menyediakan empat jenis menu sarapan ¥100 yang biasanya dijual di atas ¥500. Dalam 30 menit setelah buka pukul 08.15, 40 dari 50 porsi langsung habis. Hampir setiap hari terjadi hal serupa. “Saya dan teman-teman saling memberi tahu supermarket mana yang menjual bahan murah,” ujar seorang mahasiswa baru Fakultas Pendidikan. “Saya sangat bersyukur bisa makan hangat hanya dengan ¥100.”
Program sarapan murah ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal 2000-an di berbagai universitas Jepang, dengan tujuan utama memperbaiki kebiasaan hidup mahasiswa yang kerap melewatkan sarapan. Biaya operasional biasanya ditanggung oleh orang tua atau alumni. Kansai University di Osaka, misalnya, meluncurkan program serupa pada 2015 dan sejak 2018 didanai oleh asosiasi orang tua dan alumni. Kini, koperasi kampus menyiapkan 170 porsi setiap pagi, padahal harga normal per porsi sekitar ¥500.
Namun, tekanan inflasi mulai terasa. Biaya bahan makanan per porsi naik ¥50 hingga ¥100 dalam satu dekade terakhir. Harga beras melonjak 160 persen dalam periode yang sama. Meskipun sumbangan dari asosiasi orang tua meningkat 25 persen sejak 2023, permintaan mahasiswa juga bertambah. Saat dana tidak mencukupi, koperasi kampus terpaksa mengganti menu dengan kari yang lebih murah.
Menghadapi situasi ini, Saitama University mengambil langkah berbeda. Melalui Pusat Karir, kampus ini menjaring sponsor dari perusahaan lokal. Dengan donasi ¥150.000 per unit, perusahaan mendapat hak mengadakan satu sesi kuliah sambil sarapan, menyebarkan brosur, dan menayangkan iklan di layar kafetaria. Pada 22 Mei lalu, perwakilan SDM dari Omori Machinery Co. hadir saat 175 mahasiswa antre sarapan nasi ayam goreng dan miso sup. “Saya bisa belajar tentang perusahaan lokal sambil sarapan. Rasanya seperti membunuh lebih dari dua burung dengan satu batu,” kata seorang mahasiswa Fakultas Seni Liberal.
Kondisi keuangan mahasiswa dan orang tua semakin tertekan. Survei Federasi Serikat Staf Universitas Swasta Tokyo pada 2025 menunjukkan uang saku bulanan mahasiswa baru di sembilan universitas dan satu junior college turun drastis dibanding era 1990-an. Dengan sewa yang mencapai rekor tertinggi, sisa uang harian hanya cukup untuk satu kali makan murah. “Mahasiswa terpaksa bekerja paruh waktu untuk menutupi kebutuhan, yang bisa mengganggu prestasi akademik,” ujar perwakilan serikat pekerja.
Fenomena ini mengingatkan pada tantangan serupa di Indonesia, di mana biaya hidup mahasiswa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung juga terus meningkat. Program subsidi pangan kampus seperti “sarapan murah” bisa menjadi inspirasi, meskipun model pendanaan melalui sponsor perusahaan masih jarang diterapkan. Pertanyaannya, akankah universitas-universitas di Indonesia mengadopsi strategi serupa untuk meringankan beban mahasiswa?



