FIFA Janji Tiket Piala Dunia Ludes, Kenyataannya 86 Pertandingan Masih Tersedia
Baca dalam 60 detik
- Jelang Piala Dunia 2026, lebih dari separuh pertandingan masih memiliki tiket tersedia, bertolak belakang dengan klaim FIFA yang menyatakan semua laga sold out.
- Tiket untuk laga non-unggulan dijual di bawah harga resmi di platform sekunder, memicu dugaan FIFA membuang stok yang tak laku.
- Jaksa Agung New York dan New Jersey menyelidiki praktik penetapan harga FIFA yang dinilai menyesatkan dan tidak transparan.

Klaim FIFA bahwa seluruh tiket Piala Dunia 2026 telah ludes terjual mulai goyah. Data independen menunjukkan masih ada puluhan ribu tiket tersedia untuk 86 dari 104 pertandingan, hanya sepekan sebelum turnamen bergulir. Temuan ini memicu pertanyaan serius tentang transparansi badan sepak bola dunia tersebut.
BBC Sport melaporkan bahwa tiket untuk laga-laga yang melibatkan negara kecil atau tim non-unggulan kini dijual jauh di bawah harga nominal, baik di situs resmi FIFA maupun pasar sekunder seperti SeatGeek dan StubHub. Sebagai contoh, tiket pertandingan Yordania versus Aljazair di Santa Clara dengan harga resmi 620 dolar AS (sekitar Rp9,9 juta) bisa didapatkan hanya dengan 171 poundsterling (sekitar Rp3,5 juta) di situs penjualan kembali FIFAโpotongan harga mencapai 64 persen. Fenomena serupa terjadi pada laga Republik Ceko melawan Afrika Selatan, di mana tiket dengan nilai nominal 342 poundsterling dijual di bawah 190 poundsterling.
Kondisi ini kontras dengan pernyataan Presiden FIFA Gianni Infantino pada Februari lalu yang menjamin setiap pertandingan sudah sold out. Faktanya, dari sembilan laga yang melibatkan tuan rumah (Kanada, Meksiko, Amerika Serikat), hanya dua yang benar-benar habis terjual. Pertandingan pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan masih menyisakan lebih dari 500 kursi, meski dibanderol 2.273 dolar AS per tiket.
Kekacauan ini tidak lepas dari strategi penetapan harga yang tidak transparan. FIFA menerapkan sistem variable pricing, bukan dynamic pricing, sehingga harga berubah di setiap titik penjualan tanpa pola yang jelas. Para penggemar yang berhasil memenangkan undian tiket pun tidak mengetahui struktur harga hingga harus membayar. Beberapa di antaranya bahkan menerima tiket dengan kategori lebih rendah dari yang dibayarkan. Praktik ini mendorong Jaksa Agung New York dan New Jersey meluncurkan penyelidikan resmi atas tuduhan "menaikkan harga secara artifisial" dan "menyesatkan penggemar".
FIFA juga diduga sengaja menahan informasi dan mengubah peta stadion dengan menambahkan kategori tiket premium di baris depan yang harganya 50 persen lebih mahal, tanpa pernah diumumkan dalam periode undian. Langkah ini dinilai sebagai upaya memaksimalkan pendapatan, tetapi justru membuat banyak pertandingan tidak terisi penuh.
Bagi Indonesia, meski tidak lolos ke Piala Dunia 2026, isu ini relevan mengingat animo tinggi masyarakat terhadap turnamen global. Banyak suporter Tanah Air yang berencana menonton langsung atau membeli tiket melalui jalur resmi maupun sekunder. Ketidakjelasan harga dan risiko tiket palsu menjadi perhatian serius. Pengalaman Piala Dunia U-20 2023 yang batal di Indonesia juga mengingatkan bahwa transparansi FIFA kerap dipertanyakan.
Ke depannya, pertanyaan besar masih menggantung: akankah FIFA mampu mengisi stadion-stadion raksasa di tiga negara tuan rumah tanpa harus menjual tiket dengan harga diskon besar-besaran seperti yang terjadi pada Piala Dunia Antarklub musim panas lalu? Atau justru kita akan menyaksikan pemandangan tribun kosong di turnamen terbesar sepanjang sejarah?


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7848169/original/072831600_1780670747-20260605AA_Timnas_Indonesia_vs_Oman-02.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7965770/original/077615200_1780802287-pelatih_mozambik.jpg)