Fabregas Tegaskan Prioritas Como di Serie A, Bukan Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Como, Cesc Fabregas, menegaskan fokus timnya tetap pada Serie A meski telah lolos ke Liga Champions.
- Fabregas memuji pendekatan taktis Daniele De Rossi di Genoa, menyebutnya agresif dan penuh energi.
- Como akan menghadapi RB Leipzig di Liga Champions, tetapi rotasi pemain dilakukan untuk menjaga kebugaran di kompetisi domestik.

Jelang laga tandang melawan Genoa di Stadio Luigi Ferraris, pelatih Como, Cesc Fabregas, menegaskan bahwa Serie A tetap menjadi prioritas utama timnya, bukan Liga Champions. Pernyataan ini muncul di tengah sorotan terhadap kemampuan Como yang musim ini tampil mengejutkan dengan lolos ke kompetisi elite Eropa dan menembus semifinal Coppa Italia.
Como memang bukan lagi sekadar kejutan di sepak bola Italia. Kemenangan 2-1 atas Napoli di Stadio Diego Armando Maradona pekan lalu menjadi bukti nyata bahwa tim asuhan Fabregas layak diperhitungkan. Namun, dengan jadwal padat yang menanti, termasuk laga perdana Liga Champions melawan RB Leipzig pada Kamis mendatang, Fabregas menegaskan bahwa rotasi pemain yang dilakukannya murni untuk menjaga kebugaran, bukan karena mengorbankan laga Serie A.
"Kami ingin selalu memenangkan setiap pertandingan, tetapi kami tahu Serie A adalah prioritas," ujar Fabregas kepada DAZN Italia. Ia menambahkan bahwa sebagian besar pemainnya belum pernah merasakan atmosfer Liga Champions, sehingga perlu adaptasi dengan ritme bermain setiap tiga atau empat hari sekali. "Kami belum pernah bermain di Liga Champions, begitu juga sebagian besar pemain ini. Kami akan lihat bagaimana mereka bermain dalam jadwal padat seperti ini," jelasnya.
Keputusan menempatkan Luis Milla di bangku cadangan pada laga melawan Genoa pun disebut Fabregas sebagai langkah manajemen fisik. "Luis banyak bermain di pramusim, jadi kami memberinya waktu untuk pulih secara fisik," tuturnya. Sementara itu, dua rekrutan anyar Como, Moise Kean dan Robert Sanchez, juga baru akan diturunkan dari bangku cadangan pada laga ini.
Di sisi lain, Fabregas juga melontarkan pujian tinggi kepada Daniele De Rossi, pelatih Genoa yang notabene merupakan rekan seangkatannya di lini tengah. Menurut Fabregas, De Rossi adalah sosok yang tangguh dan cerdas di lapangan, kualitas yang kini ia bawa ke dunia kepelatihan. "Daniele sangat tangguh, kadang sulit dilewati. Ia cerdas dan kuat secara fisik," kenang Fabregas.
Fabregas mengaku mengagumi pendekatan De Rossi yang agresif dan penuh tekanan sejak awal. "Saya suka cara Roma bermain di bawah arahannya, dan energi yang ia bawa ke Genoa sangat luar biasa. Mereka tampil agresif, menekan tinggi, dan berjuang melawan siapa pun," ujarnya. Ia bahkan sepakat dengan pernyataan De Rossi bahwa Genoa bisa mengalahkan siapa saja. "Ia benar ketika mengatakan itu, dan saya setuju," tegas Fabregas.
Pertandingan Genoa melawan Como ini menjadi ujian menarik bagi kedua pelatih muda yang sama-sama bermental pemenang. Bagi Como, laga ini adalah kesempatan untuk menjaga momentum positif di Serie A sebelum fokus ke pentas Eropa. Sementara bagi Genoa, ini adalah ajang membuktikan bahwa mereka bukan lawan mudah, sejalan dengan filosofi De Rossi yang pantang menyerah.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Como dan Fabregas memberikan pelajaran berharga tentang manajemen skuad di tengah padatnya jadwal. Dengan kompetisi domestik yang semakin ketat, termasuk Liga 1 Indonesia yang juga memiliki banyak agenda, kemampuan klub untuk memprioritaskan kompetisi utama sambil tetap kompetitif di ajang lain menjadi kunci sukses. Apakah Como mampu menjaga konsistensi di Serie A sambil berjuang di Liga Champions? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa pekan ke depan.



