Kolisi Serukan Semangat Soweto untuk Jinakkan All Blacks di Johannesburg
Baca dalam 60 detik
- Kapten Afrika Selatan, Siya Kolisi, mengaitkan perjuangan melawan apartheid dengan laga krusial melawan Selandia Baru di Stadion FNB, Sabtu ini.
- Kemenangan All Blacks akan mengungguli seri 2-1, mengulang sukses bersejarah mereka di tanah Afrika Selatan pada 1996.
- Pertandingan ganda ini juga menjadi panggung bagi kakak-beradik Sititi yang sama-sama duduk di bangku cadangan tim nasional masing-masing.

Kapten Springboks, Siya Kolisi, meminta rekan setimnya untuk menarik inspirasi dari sejarah perjuangan Soweto saat mereka bersiap menghadapi Selandia Baru di Stadion FNB, pinggiran Johannesburg, pada Sabtu (30/8). Laga ini bukan sekadar duel rugby biasa; ia menjelma menjadi simbol perlawanan dan penghormatan bagi para pahlawan yang berjuang melawan apartheid.
Stadion berkapasitas 94.736 penonton itu sendiri memiliki tempat khusus dalam sejarah olahraga Afrika, menjadi tuan rumah pertandingan pembuka Piala Dunia sepak bola 2010 โ satu-satunya turnamen terbesar di benua itu. Namun bagi Kolisi, makna yang lebih dalam terletak pada peristiwa 1976, ketika pelajar Soweto bangkit menentang kebijakan pendidikan yang memaksa penggunaan bahasa Inggris dan Afrikaans โ bahasa yang dominan digunakan oleh populasi kulit putih.
"Begitu banyak hal yang terjadi di Soweto telah membentuk Afrika Selatan seperti sekarang ini," ujar Kolisi, yang juga menjadi kapten kulit hitam pertama dalam sejarah timnas. "Banyak pahlawan berasal dari sana, dan banyak sejarah sepak bola negara ini juga dari Soweto. Kami tidak akan berpura-pura bahwa ini bukan tempat yang istimewa. Semua itu memberi kami lebih banyak alasan untuk berjuang."
Bagi Kolisi dan asisten pelatih Mzwandile Stick, pertandingan ini adalah bentuk rasa syukur atas kebebasan yang kini mereka nikmati. "Mereka berjuang untuk kebebasan yang tidak pernah mereka rasakan, dan memberikan yang terbaik besok adalah cara kami mengucapkan terima kasih," tambahnya. Pemberontakan Soweto, yang menewaskan ratusan demonstran oleh aparat keamanan, menjadi titik balik yang memicu kecaman internasional dan akhirnya mengakhiri rezim apartheid pada 1994.
- Stadion FNB: kapasitas 94.736, tuan rumah final Piala Dunia 2010.
- Rekor kunjungan All Blacks ke FNB: 2 kemenangan beruntun.
- Pertandingan keempat dan terakhir seri: Baltimore, 12 September.
- Wallace dan Amarante Sititi: kakak-beradik yang sama-sama bernomor punggung 20.
Di sisi teknis, laga ini memiliki arti penting bagi keseimbangan seri. Saat ini kedudukan imbang 1-1 setelah kemenangan telak Springboks di pekan lalu. Jika All Blacks menang di Johannesburg, mereka akan unggul 2-1, mengulang skenario sukses 'Incomparables' 1996 di tanah Afrika Selatan. Pertemuan pamungkas akan digelar di Baltimore, Amerika Serikat, pada 12 September โ sebuah laga yang bisa menjadi penentu juara seri.
Menariknya, pertandingan ini dirangkai dalam format ganda dengan tim putri kedua negara. Black Ferns, yang sebelumnya mengalahkan Afrika Selatan 46-17 di perempat final Piala Dunia 2025, akan kembali bertemu. Momen ini juga menjadi saksi sejarah bagi keluarga Sititi: Wallace, flanker All Blacks, dan adik perempuannya Amarante, sama-sama dipasang sebagai pengganti bernomor 20. Jika keduanya dimainkan, mereka akan menjadi pasangan kakak-beradik kedua yang tampil untuk Selandia Baru pada hari yang sama setelah Xavier dan Annaleah Rush pada 1998.
Amarante, yang bermain untuk tim putri, mengaku tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya. "Mewakili negara ini adalah sebuah keistimewaan, tetapi melakukannya bersama kakakku adalah sesuatu yang spesial. Aku akan selalu menyimpannya di hati," katanya. Sang ayah, Semo Sititi, mantan kapten Samoa yang juga pernah bermain di Inggris, telah terbang ke Johannesburg untuk menyaksikan kedua anaknya berlaga.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menegaskan bahwa rugby bukan hanya soal fisik, tetapi juga sarat nilai sejarah dan emosi. Kisah Soweto mengingatkan bahwa olahraga kerap menjadi medium perlawanan dan persatuan, sebagaimana semangat kebangsaan yang kerap muncul dalam laga Timnas Indonesia. Pertanyaannya, akankah semangat Soweto mampu membawa Springboks meraih kemenangan yang menentukan, atau justru All Blacks yang akan menulis ulang sejarah di stadion yang penuh kenangan itu?



