Andreeva Tembus Final Perdana Grand Slam, Kalahkan Kostyuk di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Mirra Andreeva (19) menjadi finalis termuda ketiga di Prancis Terbuka abad ini setelah mengalahkan Marta Kostyuk 6-1, 6-3.
- Petenis Rusia itu mencatatkan rekor kemenangan terbanyak di tanah liat (21) pada 2026, mengungguli rival-rivalnya.
- Kostyuk menolak bersalaman dan foto bersama sebagai bentuk protes atas invasi Rusia ke Ukraina, menambah tensi politik di lapangan.

Petenis remaja Rusia, Mirra Andreeva, memastikan tempat di final Grand Slam pertamanya setelah menundukkan Marta Kostyuk dari Ukraina dalam dua set langsung di Roland Garros, Kamis (5/6). Kemenangan 6-1, 6-3 itu sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu bakat paling menjanjikan di tenis putri dunia.
Andreeva, yang tahun lalu tersingkir di semifinal, tampil dominan sejak awal. Ia hanya kehilangan satu set sepanjang turnamen dan baru kebobolan 32 game dalam enam pertandingan. Catatan itu menjadikannya pemain dengan jumlah kemenangan terbanyak di tanah liat musim ini (21), unggul jauh dari para pesaingnya.
Kemenangan ini juga mengukuhkan Andreeva sebagai petenis kelahiran setelah 2005 pertama yang mencapai final tunggal Grand Slam. Jika berhasil memenangi laga puncak, ia akan menjadi juara Grand Slam termuda ketiga abad ini setelah Maria Sharapova (2004) dan Emma Raducanu (2021).
Pertandingan berlangsung dalam atmosfer politik yang tegang. Kostyuk, yang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 vokal mengkritik atlet Rusia, menolak berfoto bersama dan bersalaman dengan Andreeva. Sikap itu konsisten dengan protes yang dilakukan pemain Ukraina selama empat tahun terakhir. Penonton di lapangan mayoritas mendukung Kostyuk, namun Andreeva mampu mengendalikan emosi dan tetap fokus.
βSaya masih sangat gugup, bahkan sebelum pertandingan,β ujar Andreeva seusai laga. βSemua perasaan ini bercampur aduk, luar biasa. Saya belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.β Ia mengaku menerapkan pola pikir menerima apa pun yang terjadi di lapangan dan berjuang maksimal β strategi yang terbukti jitu.
Kostyuk, yang datang dengan rekor 17 kemenangan beruntun di tanah liat, tampil kurang konsisten. Ia melakukan 34 kesalahan sendiri (unforced errors), jauh lebih banyak dibanding Andreeva yang hanya 22. Meski sempat bangkit di set kedua dengan merebut break, perlawanan Kostyuk tidak bertahan lama. Andreeva langsung merebut dua game beruntun untuk menutup pertandingan dalam 76 menit.
Bagi pecinta tenis Indonesia, pencapaian Andreeva menjadi pengingat bahwa regenerasi di level puncak berlangsung cepat. Dengan tersingkirnya unggulan pertama Aryna Sabalenka, peluang Andreeva untuk merebut gelar semakin terbuka. Di partai final, ia akan menghadapi rekan senegaranya Diana Shnaider atau petenis kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska.
Pertanyaan besarnya: mampukah Andreeva mengatasi tekanan sebagai favorit dan mengikuti jejak Sharapova serta Raducanu sebagai juara Grand Slam di usia muda? Atau justru lawan yang tidak diunggulkan akan menciptakan kejutan lain di Roland Garros?



