Sabalenka Tersingkir Dramatis: Kegagalan Adaptasi Angin Jadi Bumerang
Baca dalam 60 detik
- Unggulan pertama Aryna Sabalenka kehilangan keunggulan 6-3, 4-1 dan kalah 3-6, 7-5, 6-0 dari Diana Shnaider di perempat final Prancis Terbuka.
- Kekalahan ini menambah daftar panjang kejutan di Roland Garros 2025, dengan tak ada mantan juara Grand Slam yang lolos ke semifinal untuk pertama kalinya sejak 1977.
- Shnaider, yang baru pertama kali mencapai perempat final Grand Slam, akan menghadapi Maja Chwalinska di semifinal, sementara Mirra Andreeva menjadi unggulan tertinggi yang tersisa.

Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka kembali gagal memanfaatkan peluang emas di Roland Garros. Unggulan teratas asal Belarusia itu takluk dari Diana Shnaider, unggulan ke-25 asal Rusia, dalam laga perempat final yang berlangsung Jumat (6/6) dini hari WIB. Sabalenka yang sempat unggul 6-3, 4-1 harus mengakui keunggulan lawan setelah Shnaider memenangi 12 dari 13 game terakhir untuk menutup pertandingan dengan skor 3-6, 7-5, 6-0.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Sabalenka, yang sebelumnya dianggap sebagai kandidat terkuat juara setelah sejumlah unggulan top seperti Iga Swiatek dan Coco Gauff tersingkir lebih awal. Dengan empat gelar Grand Slam di tangannya, Sabalenka sejatinya memiliki rekor semifinal yang impresif—12 dari 13 turnamen mayor terakhir. Namun, kegagalan demi kegagalan di momen krusial terus menghantuinya, termasuk saat ia kehilangan keunggulan 3-0 di set penentuan final Australia Terbuka pada Januari lalu.
Kondisi angin kencang di Court Philippe Chatrier menjadi faktor utama yang mengacaukan permainan agresif Sabalenka. Ia mencatat 57 kesalahan sendiri (unforced errors), jauh di atas rata-rata. Frustrasi terlihat jelas saat ia membanting raket, berteriak, dan meluapkan kekesalan kepada tim pendukungnya. Pola serupa terjadi pada final tahun lalu, saat ia membuat 70 kesalahan sendiri dan kehilangan keunggulan satu set atas Gauff.
Bagi Shnaider, kemenangan ini menjadi pencapaian terbesar dalam kariernya. Petenis kidal berusia 21 tahun itu tampil percaya diri meski baru pertama kali berlaga di perempat final Grand Slam. "Saya tak bisa berkata-kata. Dia nomor satu dunia, jadi saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dan berjuang untuk setiap poin," ujar Shnaider usai pertandingan. Ia selanjutnya akan berhadapan dengan Maja Chwalinska, petenis kualifikasi asal Polandia yang mengejutkan banyak pihak dengan mengalahkan Anna Kalinskaya.
Di semifinal lainnya, Mirra Andreeva akan berduel dengan Marta Kostyuk, unggulan ke-15 asal Ukraina. Andreeva, yang baru berusia 18 tahun, menjadi unggulan tertinggi yang tersisa setelah kepergian Sabalenka. Situasi ini membuka peluang bagi petenis muda untuk merebut gelar Grand Slam perdana mereka, sekaligus menandai era baru dalam tenis putri yang semakin tidak terduga.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kejutan demi kejutan di Roland Garros tahun ini menjadi tontonan menarik. Tak ada lagi nama-nama besar di semifinal, yang berarti persaingan semakin terbuka. Pertanyaan besarnya: akankah salah satu dari Shnaider, Chwalinska, Andreeva, atau Kostyuk mampu memanfaatkan momentum ini dan mengukir sejarah? Atau justru kegagalan Sabalenka kembali menjadi pengingat bahwa konsistensi di level tertinggi adalah segalanya?



