Haaland Akhiri Penantian 28 Tahun: Norwegia Lolos ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Erling Haaland memastikan tiket Norwegia ke Piala Dunia 2026 setelah 28 tahun absen, dengan torehan 16 gol di kualifikasi.
- Lahir di Leeds dan sempat memenuhi syarat membela Inggris, Haaland memilih Norwegia karena ikatan kuat dengan kampung halaman.
- Norwegia kini memiliki generasi emas dengan Haaland dan Odegaard, meski beban harapan tetap bertumpu pada sang bintang.

Erling Haaland akhirnya mengakhiri penantian panjang Norwegia untuk tampil di Piala Dunia setelah 28 tahun. Melalui 16 gol dalam delapan laga kualifikasi, pemain berusia 25 tahun itu memastikan negaranya berlaga di Amerika Serikat pada 2026—sebuah misi yang ia pikul sejak awal karier profesionalnya.
Kepastian itu sekaligus mengubur kekhawatiran bahwa Haaland akan menjadi salah satu pemain kelas dunia yang tak pernah merasakan Piala Dunia. Sebelumnya, nama-nama seperti George Best (Irlandia Utara), Ian Rush (Wales), dan George Weah (Liberia) menjadi pengingat pahit bahwa bakat luar biasa tak selalu berbuah partisipasi di turnamen terbesar.
Haaland lahir di Leeds, Yorkshire, pada tahun 2000 saat ayahnya, Alf-Inge, bermain untuk Leeds United. Ia sempat memenuhi syarat membela Inggris, namun sejak kecil ia sudah menetapkan hati untuk Norwegia. Mantan manajer Inggris Gareth Southgate pada 2020 mengakui bahwa Haaland sudah bulat dengan pilihannya. “Dia sangat jelas ingin bermain untuk negara yang sekarang,” ujar Southgate.
Keputusan itu membawa konsekuensi besar. Norwegia hanya bermain di dua Piala Dunia beruntun (1994 dan 1998) dan terakhir tampil di turnamen besar pada Euro 2000. Selama lebih dari dua dekade, para pemain berbakat seperti John Carew, Morten Gamst Pedersen, dan John Arne Riise harus menyaksikan dari rumah. Haaland nyaris menyusul mereka jika bukan karena performa dominannya di kualifikasi.
Namun, Haaland bukanlah satu-satunya alasan Norwegia lolos. Martin Odegaard, gelandang Arsenal yang baru saja meraih gelar Premier League, menjadi motor serangan. Pemain lain seperti Kristoffer Ajer, Jorgen Strand Larsen, dan Oscar Bobb juga sudah mapan di liga top Eropa. Jurnalis Norwegia Andreas Korssund menyebut tim ini sebagai “generasi emas” yang mirip dengan Belgia satu dekade lalu. “Negara kecil yang benar-benar hidup untuk sepak bola,” katanya.
Meski demikian, sorotan tetap tertuju pada Haaland. Tingginya 196 cm dengan rambut pirang panjang, ia telah menjadi ikon global yang mendekati popularitas Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Saluran YouTube-nya yang berisi video keseharian memiliki 1,6 juta pelanggan, dan ia akan mengisi suara karakter Viking dalam film animasi ViQueens. Namun, jurnalis Lars Sivertsen mencatat bahwa Haaland bukan tipikal pahlawan Norwegia pada umumnya. “Dia percaya diri dan kadang blak-blakan. Di Skandinavia yang menjunjung kerendahan hati, itu membuatnya unik dan kadang menuai kritik,” ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Haaland memberikan pelajaran tentang pentingnya membangun ekosistem sepak bola sejak usia dini. Norwegia dengan populasi kecil mampu melahirkan bintang level dunia berkat pembinaan terstruktur di klub lokal seperti Bryne dan Molde. Sementara itu, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih besar masih berjuang untuk konsisten di kancah internasional. Keberhasilan Haaland juga menunjukkan bahwa loyalitas terhadap tanah air bisa mengalahkan godaan bermain untuk negara lain, sebuah nilai yang relevan bagi diaspora Indonesia di luar negeri.
Pertandingan pembuka Norwegia melawan Irak pada 16 Juni mendatang akan menjadi panggung bagi Haaland untuk membuktikan bahwa ia tidak hanya hebat di level klub. Dengan beban sejarah dan harapan 5,5 juta jiwa di pundaknya, akankah ia mampu memimpin Norwegia melangkah lebih jauh dari sekadar partisipasi?



