Sushi Tak Lagi Milik Koki Elite: Kelas Singkat Ubah Siapa Pun Jadi Peracik Handal
Baca dalam 60 detik
- Seorang koki veteran Jepang membuka pelatihan singkat yang membuktikan bahwa siapa pun bisa membuat sushi profesional dalam hitungan jam.
- Tokyo Sushi School menarik peserta global, termasuk pasangan dari Kentucky yang berhasil membuat sushi rapi tanpa pengalaman sebelumnya.
- Fenomena ini menandai pergeseran budaya: sushi yang dulu identik dengan pengabdian puluhan tahun kini bisa diakses oleh publik umum.

Selama berabad-abad, sushi identik dengan pengabdian puluhan tahun—sebuah seni yang hanya dikuasai segelintir koki elit di Jepang. Namun, di sebuah ruang kelas di pusat kota Tokyo, seorang mekanik alat berat asal Kentucky bernama Daniel Nevins baru saja membuktikan bahwa batas itu bisa dihapus. Dalam waktu kurang dari dua jam, ia menyajikan sepiring sushi yang tampak profesional dan lezat, tanpa pernah menyentuh nasi cuka sebelumnya.
Di balik meja dapur, Tsuneo Suzuki—koki dengan pengalaman 45 tahun—tersenyum puas. “Tidak ada sushi yang lebih enak daripada buatan sendiri,” katanya. Suzuki mengajar di Tokyo Sushi School, sebuah lembaga yang menarik peserta dari berbagai penjuru dunia. Banyak alumninya yang kemudian membuka restoran sushi sendiri, membuktikan bahwa resep sukses tidak selalu harus dimulai dari magang bertahun-tahun.
Kelas yang diikuti Nevins dan istrinya, Brittany, menunjukkan bahwa teknik dasar sushi sebenarnya bisa dikuasai dengan panduan langkah demi langkah. Peserta diajarkan cara membentuk nasi tanpa meremasnya—kesalahan yang di restoran tradisional bisa berakibat pemecatan—serta menempatkan irisan ikan mentah dengan presisi. Hasilnya? Sushi yang tidak hancur saat dipegang, tampak rapi, dan rasanya diakui “sangat enak” oleh para pemula.
Fenomena ini menarik perhatian karena mencerminkan perubahan besar dalam budaya kuliner Jepang. Dulu, menjadi itamae (koki sushi) memerlukan dedikasi total—mulai dari mencuci beras hingga mengiris ikan selama bertahun-tahun. Kini, Tokyo Sushi School dan kursus serupa menawarkan jalan pintas yang tetap menghormati esensi tradisi. Suzuki sendiri mengakui bahwa tantangan terbesar adalah membuat sushi tuna, yang ia sebut “dalam” karena membutuhkan pemahaman tekstur dan rasa yang rumit.
Bagi pembaca di Indonesia, tren ini membuka peluang baru. Restoran sushi di Jakarta, Surabaya, dan kota besar lain terus bertambah, namun tenaga ahli lokal masih terbatas. Kelas singkat seperti yang diajarkan Suzuki bisa menjadi model bagi pelatihan vokasi di dalam negeri, terutama dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner Jepang. “Belajar budaya makanan yang berbeda sangat mengasyikkan,” ujar Brittany Nevins, yang sejak remaja bercita-cita ke Jepang.
Pertanyaan selanjutnya: apakah model “sushi instan” ini akan menggeser standar tradisional? Atau justru menjadi pintu masuk bagi generasi baru yang kemudian mendalami seni ini lebih serius? Yang jelas, Suzuki dan murid-muridnya telah membuktikan bahwa sushi bukan lagi monopoli para koki berjubah putih—tetapi milik siapa pun yang berani mencoba.



