Terobos Lampu Merah di HI, Tiga Polisi Polda Jabar Terancam Sanksi Etik
Baca dalam 60 detik
- Ipda DG, Bripka BS, dan Briptu RPW dari Polda Jawa Barat menerobos lampu lalu lintas di pelican crossing Bundaran HI, memicu cekcok dengan satpam.
- Polda Jabar menyampaikan permohonan maaf dan memastikan ketiga anggotanya akan diproses melalui sidang Komisi Kode Etik Polri.
- Insiden ini menjadi pengingat atas pentingnya disiplin aparat dan transparansi institusi kepolisian di Indonesia.

Viralnya video mobil Toyota Alphard yang menerobos lampu merah di pelican crossing depan Hotel Pullman, Jakarta Pusat, berbuntut panjang. Tiga anggota Polda Jawa Barat yang berada di dalam kendaraan itu kini harus berhadapan dengan mekanisme etik profesi meski masalah dengan seorang satpam telah diselesaikan secara kekeluargaan.
Peristiwa bermula saat pejalan kaki tengah menyeberang di zebra cross yang ditandai lampu merah kendaraan. Sebuah mobil Alphard tetap melaju, memaksa rombongan pejalan kaki berhenti. Seorang satpam bernama Fictor yang ikut menyeberang menegur sopir dengan menggebrak kaca kendaraan. Teguran itu tak diterima, lalu terjadi cekcok mulut antara satpam dan pengemudi serta penumpang Alphard.
Rekaman yang diunggah akun Instagram @jakpus24jam.id memperlihatkan suasana tegang di lokasi. Setelah itu, kedua pihak menuju pos polisi di kawasan Thamrin untuk mediasi. Kapospol setempat memfasilitasi pertemuan dan tercapai kesepakatan damai. Namun, Polda Jawa Barat tidak berhenti di situ. Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan menyatakan permohonan maaf resmi atas tindakan tidak pantas ketiga anggotanya yang berinisial Ipda DG, Bripka BS, dan Briptu RPW.
โHasilnya, ditemukan cukup bukti adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri. Proses selanjutnya akan dilaksanakan melalui mekanisme sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri,โ tegas Hendra dalam keterangannya, Sabtu (25/7). Ia menambahkan bahwa Polda Jabar berkomitmen bertindak tegas, profesional, dan transparan terhadap setiap pelanggaran anggota.
Meski mediasi telah menghasilkan perdamaian, Polda Jabar tetap melanjutkan proses etik. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik dan menegakkan disiplin di internal kepolisian. Kejadian ini juga menyoroti kembali persoalan arogansi aparat di ruang publik, terutama yang melibatkan pengguna jalan. Publik berharap proses sidang etik berjalan transparan dan memberikan efek jera bagi anggota lain.



