Bangkai Duyung Terdampar di Singapura, Pertama Kali Sejak 2021
Baca dalam 60 detik
- Bangkai duyung ditemukan di perairan Bedok Jetty, Singapura, pada 6 Juni 2026, menjadi catatan pertama sejak 2021.
- Duyung yang terancam punah ini diduga mati akibat tabrakan kapal atau terjerat alat tangkap, dengan plastik melilit tubuhnya.
- Temuan ini menyoroti ancaman terhadap mamalia laut di Asia Tenggara, termasuk potensi risiko di perairan Indonesia.

Bangkai seekor duyung ditemukan mengapung di perairan Bedok Jetty, Singapura, pada Sabtu (6/6/2026), menandai pertama kalinya mamalia laut yang terancam punah itu tercatat di negara kota tersebut sejak 2021.
Jeremy Mark Ang, mahasiswa Republic Polytechnic berusia 19 tahun, sedang memancing di kawasan East Coast Park bersama teman-temannya ketika melihat benda besar berwarna pucat terapung sekitar pukul 16.50 waktu setempat. Awalnya dikira ikan besar, kelompok itu terkejut saat menyadari itu adalah bangkai duyung yang menggembung. Ang memperkirakan panjangnya sekitar 2 meter.
Duyung, yang juga dikenal sebagai sapi laut, adalah makhluk pemalu yang biasanya merumput di padang lamun. Secara global, spesies ini diklasifikasikan sebagai rentan terhadap kepunahan karena rentan terhadap ancaman manusia akibat umur panjang dan tingkat reproduksi yang lambat. Di Singapura, duyung dianggap sangat terancam punah.
"Saya benar-benar tidak percaya melihatnya. Sangat menyedihkan karena saya tahu mereka sangat langka, baik di Singapura maupun secara umum," ujar Ang. Ia merasa lebih sedih lagi saat melihat plastik melilit perut dan ekor hewan tersebut. Beberapa anak sempat mencoba menarik bangkai itu dengan kail pancing, namun gagal.
Bangkai itu akhirnya terdampar di pantai East Coast Park dan ditemukan oleh pejalan kaki Saachi Iyer dan Naina Dadlani sekitar pukul 19.30. Marcus Chua, kurator mamalia di Museum Sejarah Alam Lee Kong Chian Universitas Nasional Singapura (NUS), mengidentifikasi hewan itu sebagai remaja. Sebelum ini, catatan terakhir spesies tersebut di Singapura adalah bangkai lain yang ditemukan di perairan Pulau Hantu pada 2021.
"Penampakan atau terdamparnya duyung jarang terjadi di Singapura, dan sangat disayangkan karena kita lebih suka melihat mereka hidup di perairan kita," kata Chua. Sirius Ng, peneliti duyung di NUS, menambahkan bahwa kasus kematian duyung di Singapura biasanya terkait dengan tabrakan kapal dan keterikatan dengan alat tangkap. Ia mencatat bahwa anak duyung mendominasi sebagian besar catatan tersebut, mencerminkan tren global yang mengkhawatirkan. "Tingkat terdamparnya anak duyung meningkat pada populasi duyung di seluruh Asia Tenggara dan Teluk Arab," ujarnya.
Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, Chua mengatakan sampel telah diambil dengan bantuan Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura. Sampel tersebut akan diawetkan untuk penelitian di museum. Namun, museum tidak akan mengambil sisa bangkai hewan tersebut karena kondisi yang sudah sangat membusuk dan adanya spesimen serupa dari 2021.
Pada Januari lalu, Dewan Taman Nasional Singapura mengumumkan sedang menyusun panduan bagi pengembang untuk menghindari bahaya terhadap mamalia laut yang sering mengunjungi perairan pesisir Singapura. Masyarakat yang melihat hewan laut besar seperti duyung, pari, dan penyu dapat membantu penelitian dengan melaporkan penampakan mereka ke database Mega Marine Life di Singapura.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat akan ancaman serupa di perairan Nusantara. Duyung juga ditemukan di beberapa wilayah Indonesia, seperti Raja Ampat dan Kepulauan Aru, namun data mengenai populasinya masih terbatas. Meningkatnya lalu lintas kapal dan aktivitas perikanan di Selat Malaka dan Laut Natuna berpotensi meningkatkan risiko tabrakan dan keterikatan alat tangkap. Apakah Indonesia perlu mengadopsi langkah serupa dengan Singapura dalam melindungi mamalia laut yang terancam punah?



