Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Labuha, Maluku Utara: Warga Diimbau Tenang
Baca dalam 60 detik
- Gempa tektonik berkekuatan M 3,2 melanda wilayah barat daya Labuha, Maluku Utara, Sabtu (6/6) sore.
- Pusat gempa berada di kedalaman 9 km, termasuk kategori dangkal, namun tidak berpotensi tsunami.
- BMKG terus memantau dan mengingatkan data awal dapat berubah seiring kelengkapan informasi.
Wilayah Labuha, Maluku Utara, diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 3,2 pada Sabtu (6/6/2026) sore, tanpa menimbulkan potensi tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di darat, sekitar 60 kilometer barat daya Labuha, dengan kedalaman dangkal 9 kilometer.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi pukul 15:51:15 WIB dengan koordinat 0,91 Lintang Selatan dan 127,02 Bujur Timur. Guncangan dirasakan dalam skala II hingga III MMI (Modified Mercalli Intensity) di beberapa titik, artinya getaran terasa nyata di dalam rumah seakan ada truk melintas. Meski tergolong kecil, gempa dangkal kerap menimbulkan kecemasan warga karena getarannya terasa lebih kuat.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan pers mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab. "Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa. Kami terus memantau perkembangan," ujarnya.
Gempa di Maluku Utara bukanlah kejadian langka. Wilayah ini berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Eurasia. Sepanjang 2026, BMKG mencatat setidaknya 15 gempa dengan magnitudo di atas 3 di sekitar Halmahera dan sekitarnya. Gempa kecil seperti ini berfungsi sebagai "release stress" energi seismik, namun tetap perlu diwaspadai karena dapat menjadi prekursor gempa yang lebih besar.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di zona rawan gempa, kejadian ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan. Pemerintah daerah bersama BMKG secara rutin menggelar simulasi evakuasi dan sosialisasi mitigasi. Namun, masih banyak warga yang belum memiliki pengetahuan dasar tentang langkah selamat saat gempa. Edukasi semacam ini perlu diperkuat, terutama di daerah terpencil seperti Labuha.
Ke depan, BMKG akan terus memperbarui data jika ada aktivitas susulan. Masyarakat diminta hanya merujuk pada informasi resmi dari BMKG dan tidak menyebarkan berita hoaks. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan gempa di Maluku Utara sudah memadai untuk menghadapi skenario terburuk?



