Teror Api Misterius di Sleman: 106 Kali Muncul, Warga Terpaksa Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Rumah seorang warga di Seyegan, Sleman, mengalami kebakaran spontan berulang hingga 106 kali dalam dua pekan, memaksa keluarga mengungsi.
- Tim peneliti UGM menduga gas hidrogen dari limbah pemotongan ayam selama 16 tahun menjadi pemicu utama fenomena langka ini.
- Kerugian materi mencapai Rp70 juta, sementara penyelidikan dari UPN Veteran Yogyakarta juga mengarah pada kemungkinan sumber gas dari batuan organik di bawah tanah.

Seorang warga di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami teror api misterius yang tak kunjung reda. Dalam dua pekan terakhir, kebakaran spontan telah muncul sebanyak 106 kali di kediaman Mutfiana alias Fia, dengan 65 titik api berhasil dipetakan. Fenomena ini memaksa Fia dan keluarganya mengungsi ke bangunan ruko di sebelah utara rumah mereka, namun mereka tetap harus bergiliran mengawasi properti yang terus dilanda si jago merah.
Kondisi psikologis Fia disebut sangat tertekan. Ia mengaku hanya bisa tidur maksimal tiga jam sehari karena harus berjaga bersama relawan. Tekanan darahnya naik, pola makan berantakan, dan asupan gizi tidak terpenuhi. Belum lagi beban ekonomi: kerugian material diperkirakan mencapai Rp70 juta, termasuk kerusakan barang dan biaya pembongkaran septic tank. Usaha pemotongan ayam yang dijalankan di rumah pun ikut terdampak karena aktivitas produksi terhenti.
Tim multidisiplin dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM dan Detasemen Gegana Satbrimob Polda DIY turun tangan menyelidiki penyebab api. Dosen Teknik Geologi UGM Sarju Winardi mengungkapkan bahwa timnya menemukan gas hidrogen (H2) di lokasi, yang diduga kuat berasal dari fermentasi limbah organik pemotongan ayam yang telah tertimbun selama 16 tahun. Gas ini, menurut Sarju, merupakan kasus khusus karena tidak ditemukan di tempat pengelolaan limbah serupa lainnya.
Sarju menjelaskan bahwa gas hidrogen terbentuk melalui aktivitas bakteri anaerob Clostridium yang mengurai limbah. Setelah bertahun-tahun, produksi gas mencapai puncak sehingga merembes ke permukaan dan terakumulasi di benda-benda seperti baju atau sofa. Ketika terkena pemicu—seperti listrik statis atau gesekan—gas tersebut menyala. Tim UGM juga mendeteksi keberadaan gas fosfin (PH3), senyawa yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yang memperkuat hipotesis mereka.
Sementara itu, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang dipimpin Guru Besar Basuki Rahmat melakukan investigasi dari aspek geologi. Mereka menemukan batuan induk di area sungai sekitar 300 meter dari rumah Fia yang kaya material organik, berpotensi menghasilkan gas metana (CH4) dan hidrogen. Survei geomagnetik dan geolistrik telah dilakukan untuk memetakan lapisan batuan dan mendeteksi rongga bawah tanah yang menjadi jalur keluarnya gas.
Fenomena ini mengingatkan pada kasus api abadi seperti Api Abadi Mrapen, namun karakteristiknya berbeda. Gas di rumah Fia keluar secara perlahan, volumenya kecil, dan titik kemunculannya berpindah-pindah, sehingga sulit disampling. Tim UGM menegaskan bahwa bahaya utama terletak pada akumulasi gas di benda mudah terbakar, bukan pada ledakan besar. Pertanyaan yang masih mengemuka: mengapa fenomena ini hanya terjadi di satu lokasi, padahal banyak tempat lain memiliki limbah serupa? Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap misteri ini sepenuhnya.



