Banjir dan Longsor Mengancam Jepang Barat: Warga Diimbau Siaga
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Jepang memperingatkan hujan lebat di wilayah barat dan kepulauan Nansei, dengan curah hujan hingga 300 mm di Shikoku.
- Sistem tekanan rendah diperkirakan bergerak dari Kyushu ke Honshu, meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor di daerah rendah.
- Peringatan ini muncul tak lama setelah topan menerjang wilayah Pasifik Jepang, memperparah kerentanan infrastruktur.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan deras yang diprakirakan melanda sejumlah wilayah di Jepang bagian barat dan rantai kepulauan Nansei, meningkatkan risiko bencana tanah longsor serta banjir di kawasan permukiman.
Menurut analisis JMA, sistem tekanan rendah yang saat ini berada di selatan Pulau Kyushu diperkirakan akan bergerak ke timur sepanjang pesisir selatan Pulau Honshu mulai akhir pekan ini. Pergerakan massa udara ini diproyeksikan membawa curah hujan ekstrem yang dapat memicu genangan air di daerah dataran rendah, khususnya di wilayah Shikoku.
Data yang dirilis JMA menunjukkan bahwa dalam periode 24 jam hingga pukul 18.00 waktu setempat pada Minggu (8/6), intensitas hujan di Pulau Shikoku diperkirakan mencapai 300 milimeter. Sementara itu, wilayah Kyushu bagian selatan dan kawasan Amami diprediksi menerima hingga 250 milimeter, dan Prefektur Okinawa sekitar 100 milimeter. Angka ini tergolong tinggi dan berpotensi melampaui kapasitas drainase perkotaan.
Peringatan ini muncul tidak lama setelah Jepang dilanda topan yang menerjang sisi Pasifik wilayah barat dan timur, serta mendarat di Prefektur Wakayama. Kejadian beruntun tersebut mengindikasikan bahwa musim hujan tahun ini membawa ancaman lebih besar dari biasanya, terutama bagi daerah yang infrastruktur pengendali banjirnya belum sepenuhnya pulih.
Bagi Indonesia, pola cuaca ekstrem di Jepang menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan tata kelola risiko bencana. Meskipun secara geografis terpisah, perubahan iklim global membuat frekuensi dan intensitas hujan ekstrem meningkat di kedua negara. Pemerintah daerah di Indonesia, khususnya yang berada di wilayah rawan longsor dan banjir, dapat menjadikan langkah JMA sebagai referensi dalam menyusun protokol evakuasi dan edukasi publik.
Para ahli meteorologi memperkirakan bahwa sistem tekanan rendah ini masih akan aktif hingga awal pekan depan. Warga di wilayah terdampak diminta untuk terus memantau informasi resmi dan tidak lengah meskipun hujan tampak mereda. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: sejauh mana kesiapan infrastruktur kota-kota besar Jepang dalam menghadapi curah hujan ekstrem yang kian sering terjadi?



