Camila Mendes: Lebih Pilih Bahagia daripada Sukses, Pelajaran dari Retret Mental
Baca dalam 60 detik
- Aktris Camila Mendes mengaku retret mental Hoffman selama sepekan mengubah hidupnya, memberinya ruang untuk introspeksi dan mengatasi pola perfeksionisme.
- Ia memilih kebahagiaan di atas kesuksesan, menegaskan bahwa jika karier menghalangi kebahagiaan, maka tidak layak dipertahankan.
- Latihan beban membantunya membangun hubungan positif dengan tubuh, kontras dengan perjuangan gangguan makan sepuluh tahun lalu.

Camila Mendes, aktris yang dikenal lewat perannya di "Masters of the Universe", mengaku lebih memilih kebahagiaan daripada kesuksesan setelah menjalani retret kesehatan mental yang mengubah perspektif hidupnya. Dalam wawancara dengan Josh Smith's Great Chat Show, ia menceritakan bagaimana program Hoffman selama sepekan membantunya keluar dari siklus kelelahan dan tekanan menjadi sempurna.
Mendes, 31 tahun, mengungkapkan bahwa sebelum retret, ia terjebak dalam kebiasaan menyenangkan orang lain dan standar tinggi yang tak pernah bisa ia penuhi. "Saya terus-menerus mengatakan 'maaf, hidup saya sangat sibuk', dan itu sudah berlangsung dua tahun. Saya sadar ini bukan fase, ini pola hidup yang salah," ujarnya. Retret tersebut mewajibkan peserta menyerahkan ponsel dan menjalani terapi psikologis intensif selama seminggu penuh.
Hasilnya, ia merasa lebih mengenal dirinya sendiri dan mampu membuat perubahan berarti. "Saya tidak perlu menjadi orang yang sangat sukses. Saya hanya ingin cukup sukses untuk hidup bahagia. Jika kesuksesan menghalangi kebahagiaan, itu tidak sepadan," tegas Mendes. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi banyak orang, terutama di industri hiburan yang kerap menuntut pencapaian tanpa henti.
Perubahan signifikan juga terjadi pada hubungannya dengan tubuh. Mendes yang dulu ingin kurus kini justru aktif menambah massa otot. "Latihan beban mengajarkan saya banyak hal. Wanita perlu angkat beban, jangan takut menjadi kekar. Anda hanya akan lebih kuat dan kencang," katanya. Ia menyebut transformasi ini sebagai momen lingkaran penuh yang menunjukkan sejauh mana ia telah berkembang sejak memulai karier.
Di Indonesia, isu kesehatan mental di kalangan pekerja kreatif dan publik figur juga semakin mengemuka. Banyak artis Tanah Air yang mulai terbuka mengenai terapi dan retret mental, meski stigma masih ada. Kisah Mendes bisa menjadi inspirasi bahwa mengambil jeda untuk introspeksi bukanlah kelemahan, melainkan langkah berani menuju hidup yang lebih autentik. Terapis di Jakarta dan Bali pun mencatat peningkatan minat terhadap program retret digital detox serupa.
Mendes mengakui bahwa perjalanan penyembuhannya tidak instan. "Saya menjalani banyak terapi. Awalnya ragu apakah ini akan berhasil, tapi ternyata efektif. Saya merasa sangat nyaman membicarakannya sekarang karena itu bagian dari cerita saya," pungkasnya. Pertanyaannya, akankah semakin banyak figur publik yang berani mengambil langkah serupa di tengah tekanan industri yang terus berputar?



