Pangan Lokal Indonesia: Lebih dari Sekadar Makanan, Ini Warisan Budaya yang Terancam
Baca dalam 60 detik
- Komunitas adat di berbagai daerah masih mempertahankan pangan lokal seperti singkong, sagu, dan sorgum sebagai identitas budaya dan strategi ketahanan pangan.
- Kebijakan pangan era Orde Baru yang memonopoli beras menggeser konsumsi pangan lokal, namun tradisi dan ritual adat tetap menjaga eksistensinya.
- Ancaman alih fungsi lahan dan modernisasi mengancam keberlanjutan pangan lokal, meski potensinya besar untuk ketahanan pangan dan adaptasi iklim.

Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari umbi-umbian, serealia, hingga hasil laut. Namun, dominasi beras sebagai makanan pokok sejak era Orde Baru telah menggeser peran pangan tradisional. Meski demikian, sejumlah komunitas adat tetap mempertahankannya sebagai bagian dari identitas dan ritual budaya, sekaligus sebagai strategi bertahan di tengah perubahan iklim dan tekanan ekonomi.
Komunitas adat Bonokeling di Banyumas, Jawa Tengah, misalnya, menjadikan singkong sebagai makanan sehari-hari dan elemen penting dalam upacara adat. Bagi mereka, mengonsumsi singkong bukanlah tanda keterbatasan, melainkan bentuk adaptasi saat paceklik dan cara mewariskan nilai leluhur. Di Buton, Sulawesi Tenggara, singkong diolah menjadi kasoami, makanan legendaris Kesultanan Buton yang menjadi pengganti nasi dengan berbagai bentuk khas.
Di Nusa Tenggara Timur, sorgum menjadi primadona karena ketahanannya terhadap iklim kering dan berbatu. Tanaman ini kaya serat, bebas gluten, dan aman bagi penderita diabetes. Sejarah mencatat sorgum berasal dari Afrika dan mulai dikenal di Indonesia sejak masa kolonial, namun sempat ditinggalkan pada 1970-an. Kini, upaya reintroduksi benih sorgum membangkitkan nostalgia petani yang kembali menanamnya.
Di Nusa Lembongan, Bali, rumput laut menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir sejak 1980-an. Budidaya ini dirintis oleh Made Kawijaya, yang meraih penghargaan Kalpataru pada 1986. Meski sempat ditinggalkan saat pariwisata berkembang, pandemi COVID-19 memicu warga kembali ke laut. Sementara itu, sagu tetap menjadi makanan pokok masyarakat Papua dan Maluku, diolah menjadi papeda. Namun, hutan sagu terancam alih fungsi menjadi permukiman dan pembangunan.
Tanaman jewawut, sejenis serealia kecil, masih dibudidayakan di Sulawesi Barat, Pulau Buru, NTT, dan Jawa Tengah. Di Kampung Lewouran, NTT, jewawut ditanam di pinggir lahan padi atau jagung sebagai pelindung. Bagi Dayak Meratus di Kalimantan Selatan, jewawut bersifat sakral: panennya harus melalui upacara adat, dan hasilnya tidak dijual melainkan dikonsumsi sendiri. Ubi banggai di Pulau Peleng, Sulawesi Tenggara, juga dirayakan dengan upacara syukuran di tempat ibadah.
Keberagaman pangan lokal ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya, tetapi juga potensi besar untuk ketahanan pangan nasional. Di tengah ancaman perubahan iklim, tanaman lokal seperti sorgum, sagu, dan jewawut menawarkan solusi adaptif. Namun, modernisasi dan alih fungsi lahan terus menggerus keberadaannya. Upaya pelestarian melalui tradisi adat dan reintroduksi benih menjadi langkah penting untuk menjaga warisan ini tetap hidup.



