Berhenti Konsumsi Gula dan Lemak Berlebih: Bisakah Memulihkan Kerusakan Otak?
Baca dalam 60 detik
- Tinjauan terhadap 27 studi pada hewan menunjukkan bahwa beralih ke pola makan sehat dapat memperbaiki memori, tetapi efeknya tidak sempurna jika diet sebelumnya tinggi gula.
- Kerusakan kognitif akibat konsumsi gula tinggi tampak lebih persisten dibandingkan lemak tinggi, diduga karena respons neuroinflamasi yang lebih kuat.
- Para ahli menekankan bahwa pencegahan tetap lebih efektif daripada pemulihan, dan penelitian lanjutan pada manusia diperlukan untuk memvalidasi temuan ini.

Menghentikan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak mungkin tidak sepenuhnya memulihkan fungsi otak yang telah terganggu, terutama jika kerusakan dipicu oleh asupan gula berlebih. Temuan ini terungkap dari tinjauan sistematis terhadap 27 studi pada hewan yang dipublikasikan di jurnal Nutritional Neuroscience.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Michael D. Kendig dari University of Technology Sydney menganalisis data dari model tikus yang diberi diet tinggi lemak dan gula selama minimal dua minggu. Sebagian hewan kemudian dikembalikan ke pakan sehat, sementara sisanya tetap menjalani diet tidak sehat. Setelah jeda setidaknya 24 jam, kemampuan kognitif mereka diuji.
Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang beralih ke pola makan sehat memang tampil lebih baik dalam tugas memori dibandingkan yang terus mengonsumsi makanan tidak sehat. Namun, pemulihan tersebut tidak merata. Memori hanya pulih pada tikus yang sebelumnya hanya mendapat diet tinggi lemak, bukan pada mereka yang mengonsumsi gula tinggi atau kombinasi gula dan lemak tinggi.
Menurut Kendig, temuan ini mengejutkan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. "Kami menduga bahwa gula—baik sendiri maupun dikombinasikan dengan lemak—mencegah pemulihan memori. Ini mengindikasikan bahwa diet tinggi gula dapat menyebabkan gangguan kognitif yang lebih persisten," ujarnya. Ia menambahkan bahwa beberapa studi sebelumnya menunjukkan gula memicu peradangan saraf yang lebih kuat dibandingkan lemak, yang mungkin menjelaskan efek jangka panjang tersebut.
Zack Ramilevich, neurolog dari Marcus Neuroscience Institute di Florida, menilai temuan ini memiliki dasar translasional yang kuat pada manusia. "Kita sudah memiliki bukti klinis bahwa diet tinggi gula dan lemak menyebabkan penyusutan volume hipokampus, pusat pembentukan memori. Karena neuroanatomi dasar dan jalur metabolisme memori serupa antara hewan pengerat dan manusia, masuk akal jika otak kita juga memiliki kapasitas pemulihan serupa," katanya. Namun, ia menekankan perlunya uji coba pada manusia untuk memastikan efeknya.
Dung Trinh, kepala medis Healthy Brain Clinic di California, menyebut hasil studi ini sebagai pengingat bahwa pencegahan jauh lebih kuat daripada pengobatan. "Pesan utamanya bukan bahwa kerusakan otak bersifat permanen, tetapi bahwa paparan berkepanjangan terhadap pola makan tidak sehat dapat meninggalkan jejak yang sulit dihapus pada sistem memori," jelasnya. Trinh menambahkan bahwa dengan belum adanya obat untuk Alzheimer atau sebagian besar penyebab penurunan kognitif, modifikasi diet menjadi alat pencegahan yang praktis dan dapat diakses.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya konsumsi gula dan lemak jenuh di masyarakat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa lebih dari 30% penduduk Indonesia mengonsumsi gula melebihi batas harian yang direkomendasikan. Sementara itu, prevalensi demensia diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Langkah sederhana seperti mengurangi asupan gula dan lemak trans, serta memperbanyak sayur dan buah, bisa menjadi strategi murah untuk menjaga kesehatan otak di usia lanjut.
Ke depan, para peneliti berharap studi pada manusia dapat mengisolasi efek spesifik dari berbagai jenis gula dan lemak, misalnya membandingkan fruktosa dengan glukosa, atau lemak jenuh inflamatif dengan asam lemak omega-3 yang justru bermanfaat. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah otak manusia yang telah terpapar gula tinggi selama bertahun-tahun masih bisa pulih sepenuhnya, ataukah ada batas waktu yang tidak bisa dikembalikan?



