Jonathan Tah: Perjalanan Panjang Bek Bayern ke Panggung Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Jonathan Tah akan debut di Piala Dunia pada usia 30 tahun setelah absen di edisi 2018 dan 2022.
- Bek Bayern Munich itu menegaskan pentingnya fokus pada hal yang bisa dikendalikan, bukan keputusan pelatih.
- Jerman akan menghadapi Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador di fase grup; Tah berakar dari Pantai Gading.

Jonathan Tah, bek tengah Bayern Munich dan timnas Jerman, akhirnya akan merasakan debut di Piala Dunia pada usia 30 tahun—satu dekade setelah penampilan internasional pertamanya. Pemain kelahiran Hamburg itu menjadi bagian dari skuad Julian Nagelsmann untuk Piala Dunia 2026 setelah musim gemilang bersama Bayern, namun perjalanannya menuju turnamen akbar ini penuh liku.
Tah, yang sebelumnya membela Hamburg, Fortuna Düsseldorf, dan Bayer Leverkusen, harus menunggu lama untuk mendapat panggilan ke Piala Dunia. Ia absen di edisi 2018 dan 2022, meski telah mengoleksi 49 penampilan kompetitif di bawah asuhan Vincent Kompany pada musim 2025/26. Bayern juga sukses meraih DFB Cup dan Franz Beckenbauer Supercup musim itu. Namun, Tah mengaku sempat ragu apakah ia akan pernah bermain di Piala Dunia. "Penting bagi saya untuk fokus pada apa yang bisa saya kendalikan. Saya tidak bisa mengontrol apakah pelatih memanggil saya atau membawa saya ke turnamen. Namun, saya bisa mengontrol perilaku dan performa saya di lapangan," ujarnya kepada DFB Journal.
Meski harus menunggu lama, Tah tidak pernah mengubah karakternya. Ia mengaku kerap mendapat saran untuk bermain lebih keras, bahkan seperti "preman", namun ia menolak. "Saya harus berkembang, tapi tidak perlu mengubah karakter saya. Saya senang tidak harus menjadi preman untuk bisa sampai di sini," tegasnya. Keyakinan pada jalannya sendiri menjadi kunci: "Setiap kali saya setia pada diri sendiri, saya 100 persen yakin bahwa jalan ini benar untuk saya. Jauh di lubuk hati, saya tidak punya keraguan."
Di Piala Dunia 2026, Tah diproyeksikan berduet dengan bek Borussia Dortmund, Nico Schlotterbeck, di jantung pertahanan Jerman. Turnamen dimulai pada 14 Juni melawan Curacao, diikuti laga emosional melawan Pantai Gading pada 20 Juni di Toronto—negara asal ayahnya. "Akar keluarga saya di Pantai Gading adalah bagian dari diri saya. Melihat perjuangan ayah saya datang ke Jerman membantu saya menempatkan segala sesuatu dalam perspektif. Saat saya mengalami masa sulit di sepak bola, itu tidak ada artinya dibandingkan perjuangannya," ungkap Tah. Jerman akan menutup fase grup melawan Ekuador pada 25 Juni.
Bagi Indonesia, perjalanan Tah menjadi inspirasi tentang ketekunan dan identitas ganda. Banyak pemain keturunan Indonesia di Eropa menghadapi dilema serupa: memilih negara kelahiran atau tanah leluhur. Kisah Tah menunjukkan bahwa akar budaya bisa menjadi kekuatan, bukan hambatan. Selain itu, Jerman sebagai salah satu favorit turnamen akan menjadi sorotan penggemar sepak bola Tanah Air yang mengikuti Piala Dunia.
Soal peluang Jerman setelah tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022, Tah optimistis. "Apa pun mungkin bagi kami. Kami punya tim yang, ketika sudah dalam momentum, bisa mencapai segalanya. Ada negara yang di atas kertas mungkin sedikit lebih kuat, tapi saya tidak percaya nama pemain menentukan kemenangan. Yang lebih penting adalah kekompakan dan semangat tim," pungkasnya. Bisakah Jerman kembali berjaya di bawah kepemimpinan Nagelsmann? Jawabannya akan terungkap di Amerika Utara musim panas nanti.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7905627/original/008038500_1780735999-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_8.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5540762/original/011809800_1774813752-Gemini_Generated_Image_cnqpuwcnqpuwcnqp.jpg)