CarryMen: Startup Pengantar Belanja di India Picu Perdebatan Kelas Menengah
Baca dalam 60 detik
- Startup India, CarryMen, menyediakan asisten belanja di pasar tradisional Delhi dengan tarif mulai 79 rupee per 30 menit.
- Layanan ini menuai kritik karena dianggap memperkuat budaya ketergantungan kelas menengah, namun pendiri membantah dan menyasar kelompok rentan.
- Keberlanjutan model bisnis ini dipertanyakan saat ekspansi, mengingat risiko eksploitasi tenaga kerja di ekonomi gig India.

Di tengah hiruk-pikuk pasar Lajpat Nagar, Delhi, sebuah startup bernama CarryMen menawarkan jasa yang tak biasa: menggendong belanjaan, mendorong kereta bayi, bahkan mengantre di kasir. Layanan yang diluncurkan pada April lalu ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial, bukan hanya karena kepraktisannya, tetapi juga karena memantik perdebatan sengit tentang batas antara kemudahan dan kemalasan kelas menengah India.
Didirikan oleh dua ibu muda, Ritu Kandari Srivastava dan Kanishka Malhotra, ide CarryMen lahir dari pengalaman frustrasi berbelanja sambil membawa balita. "Kami kesulitan mendorong kereta bayi sambil membawa tas belanjaan. Kami juga melihat lansia yang kerepotan, tapi tak bisa membantu karena tangan kami penuh," ujar Ritu. Dari situlah mereka membayangkan jasa berbayar yang bisa meringankan beban pengunjung pasar tradisional yang padat dan tidak ramah kursi roda.
Setelah mengurus izin dari pemerintah kota dan polisi, mereka merekrut lima pria muda dan dua wanita, lalu melatih mereka selama sebulan. Para asisten ini dibekali kemampuan navigasi pasar, cara membuka dan mengunci kereta bayi, serta etika melayani pelanggan. Mereka juga membawa perlengkapan seperti payung, kursi lipat, dan botol air. Tarifnya mulai 79 rupee (sekitar Rp15.000) untuk 30 menit, atau 149 rupee per jam. Dalam enam pekan pertama, rata-rata enam hingga sembilan pemesanan masuk setiap hari, terutama dari ibu hamil, orang tua dengan anak kecil, lansia, dan penyandang disabilitas.
Namun, popularitas CarryMen juga memicu kritik tajam. Banyak warganet menyebutnya sebagai puncak budaya "entitlement" kelas menengah India yang gemar meng-outsource pekerjaan domestik. Gambar-gambar buatan AI yang menampilkan perempuan kaya raya berdandan rapi menggunakan jasa ini semakin memperkeruh suasana. "Kesan yang muncul adalah layanan ini hanya untuk wanita superkaya yang takut kukunya rusak," kata aktivis buruh dan sosiolog Akriti Bhatia. Sebagian bahkan menyebut CarryMen sebagai "coolie" modern yang terperangkap dalam ekonomi gig eksploitatif, atau bahkan perbudakan masa kini.
Pendiri CarryMen membantah keras tuduhan tersebut. "Tidak ada perbudakan. Kami tidak memaksa siapa pun bekerja. Semua karyawan adalah pekerja tetap bergaji, bukan pekerja gig," tegas Ritu. Ia menekankan bahwa layanan ini justru membantu kelompok yang benar-benar membutuhkan, bukan sekadar kemalasan. Anand Kumar, salah satu asisten berusia 18 tahun, mengaku pekerjaan ini lebih baik daripada sebelumnya sebagai helper toko sari dan kurir. "Gajinya lebih baik, dan saya merasa dihormati. Saya pernah membantu seorang pria dengan lengan palsu yang mempercayakan seluruh uangnya kepada saya untuk membayar belanjaan. Itu sangat mengharukan," ceritanya.
Bagi Indonesia, fenomena CarryMen menghadirkan refleksi menarik. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, pasar tradisional juga memiliki tantangan serupa: trotoar rusak, kepadatan tinggi, dan minim fasilitas ramah disabilitas. Namun, budaya "ngojek" atau menggunakan jasa kuli panggul sudah lama ada, meski seringkali tidak terstruktur dan rawan eksploitasi. Model CarryMen yang menawarkan pekerjaan formal dengan pelatihan dan gaji tetap bisa menjadi alternatif, asalkan regulasi ketenagakerjaan ditegakkan. Namun, tanpa jaminan sosial dan serikat pekerja, risiko eksploitasi tetap mengintai, terutama jika startup ini tumbuh besar dan beralih ke model kemitraan yang lebih fleksibel.
Rencana ekspansi CarryMen ke Chandni Chowk pada Juli mendatang akan menjadi ujian pertama. Akriti Bhatia mengingatkan bahwa banyak startup menjanjikan kesejahteraan di awal, lalu perlahan mengurangi tunjangan saat skala membesar. "Di India, dengan melimpahnya tenaga kerja murah dan lemahnya serikat pekerja, perusahaan bisa terus menekan buruh. Arah mana yang akan diambil CarryMen, kita lihat saja," ujarnya. Pertanyaan yang sama relevan untuk Indonesia: bisakah inovasi seperti ini berjalan tanpa mengorbankan hak-hak pekerja?



