SpaceX IPO Bernilai Triliunan Dolar: Inovasi atau Manipulasi Pasar?
Baca dalam 60 detik
- SpaceX menargetkan valuasi US$2 triliun dalam IPO terbesar sepanjang sejarah, meski pendapatan tahun lalu hanya US$15 miliar.
- NASDAQ melonggarkan aturan free float dan masa tunggu indeks khusus untuk mengakomodasi pencatatan saham SpaceX, memicu kekhawatiran volatilitas.
- Jika indeks lain seperti S&P 500 mengikuti langkah serupa, miliaran dolar dana pasif akan otomatis mengalir ke saham SpaceX tanpa evaluasi fundamental.

SpaceX, perusahaan eksplorasi antariksa milik Elon Musk, dikabarkan telah mengajukan dokumen rahasia untuk pencatatan saham perdana (IPO) di bursa NASDAQ Amerika Serikat. Rencana ini menargetkan valuasi total US$2 triliun, menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah. Meski hanya melepas sebagian kecil saham ke publik untuk mengumpulkan US$75 miliar, langkah ini memicu perdebatan tentang kewajaran valuasi dan fleksibilitas aturan bursa.
Didirikan pada 2002, SpaceX dikenal dengan inovasi roket yang dapat digunakan kembali, menekan biaya peluncuran hingga 5% dari biaya awal 2000-an. Hingga kini, perusahaan mengklaim telah menyelesaikan sekitar 600 pendaratan roket sukses. Namun, 50–80% pendapatan SpaceX justru berasal dari Starlink, layanan internet satelit yang melayani lebih dari 10 juta pengguna global. Pada Februari 2026, SpaceX bergabung dengan xAI—perusahaan AI di balik chatbot Grok yang masih merugi—dalam merger swasta terbesar senilai US$1,25 triliun, yang menjadi batu loncatan menuju IPO.
Yang menjadi sorotan adalah keputusan NASDAQ melonggarkan aturan indeks untuk mengakomodasi SpaceX. Biasanya, perusahaan harus memiliki free float minimal 10% dan melalui masa tunggu tiga bulan sebelum masuk indeks. Kini, batas free float dihapus dan masa tunggu dipangkas menjadi 15 hari perdagangan. Langkah ini memungkinkan SpaceX langsung masuk NASDAQ 100, sehingga dana pasif senilai lebih dari US$600 triliun yang melacak indeks tersebut otomatis membeli sahamnya. Kekhawatiran muncul karena lonjakan permintaan buatan ini berpotensi memicu volatilitas tinggi dan merugikan investor ritel.
Tidak hanya NASDAQ, indeks lain seperti S&P 500 dan FTSE Russell juga dikabarkan tengah mempertimbangkan perubahan aturan serupa. Dengan dana pasif yang melacak S&P mencapai lebih dari US$16 triliun, dampaknya bisa jauh lebih besar jika SpaceX masuk dalam indeks tersebut. Musk sendiri dikenal sebagai favorit investor ritel, dan SpaceX berencana menjual hingga 30% saham IPO kepada individu non-institusi.
Di tengah euforia, para analis mengingatkan bahwa valuasi setinggi langit tidak sebanding dengan fundamental bisnis. Pendapatan SpaceX yang hanya US$15 miliar tahun lalu berarti butuh 133 tahun untuk mencapai valuasi US$2 triliun—tanpa memperhitungkan pertumbuhan. Sementara itu, kemampuan perusahaan untuk 'membengkokkan' aturan bursa menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan pasar. Ketika pemain besar bisa mengubah permainan, investor kecil harus lebih jeli sebelum ikut arus.



