Playstack, Penerbit Balatro, Dijual ke Perusahaan Investasi AS Senilai Rp2,4 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Playstack, penerbit indie asal Inggris di balik game Balatro dan Abiotic Factor, diakuisisi oleh Integrated Media Company (IMC) melalui anak usahanya VantageCo dengan nilai perusahaan mencapai US$169 juta.
- TruFin, pemilik sebelumnya, melepas 84,5% sahamnya dalam transaksi senilai US$151 juta, menandai langkah konsolidasi di industri game indie yang kian diminati investor.
- Akuisisi ini diproyeksikan memperkuat posisi Playstack di pasar global, termasuk potensi ekspansi ke Asia Tenggara, di mana Indonesia menjadi salah satu pasar game mobile terbesar.

Playstack, penerbit game indie di balik fenomena Balatro, resmi berganti kepemilikan. Perusahaan yang berbasis di Inggris itu diakuisisi oleh Integrated Media Company (IMC), sebuah firma investasi Amerika yang juga menaungi GameSpot, Fandom, dan Fanatical. Nilai perusahaan Playstack kini mencapai US$169 juta atau sekitar Rp2,4 triliun.
Transaksi ini melibatkan penjualan 84,5% saham Playstack yang sebelumnya dimiliki oleh TruFin kepada VantageCo, anak usaha IMC, dengan nilai US$151 juta. Langkah ini menjadi salah satu akuisisi terbesar di ranah game indie dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa investor mulai melirik potensi penerbit kecil yang mampu melahirkan gim fenomenal.
Playstack didirikan pada 2016 dan mulai dikenal luas setelah merilis Balatro, gim kartu roguelike yang sukses di pasaran. Selain itu, mereka juga menerbitkan Abiotic Factor dan RACCOIN: Coin Pusher Roguelike. Kesuksesan Balatro membawa Playstack ke panggung global dan menjadi daya tarik bagi IMC untuk mengakuisisinya.
CEO Playstack, Harvey Elliot, menegaskan bahwa akuisisi ini tidak akan mengubah identitas perusahaan. βIni adalah perubahan kepemilikan, bukan perubahan siapa kami,β ujarnya. Playstack akan tetap fokus menerbitkan gim indie dan mempertahankan tim yang ada. Namun, dengan sumber daya IMC yang lebih besar, Playstack berpotensi memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi.
Bagi industri game Indonesia, akuisisi ini membuka peluang kolaborasi. IMC memiliki jaringan distribusi global yang kuat, termasuk melalui Fanatical, toko game digital yang populer. Penerbit indie Indonesia yang ingin menembus pasar global bisa memanfaatkan jalur ini. Selain itu, dengan pertumbuhan pasar game mobile di Indonesia, Playstack mungkin akan lebih agresif memasarkan gim-gimnya ke Asia Tenggara.
Kendati demikian, integrasi dengan perusahaan besar juga membawa risiko. Beberapa akuisisi sebelumnya menunjukkan bahwa penerbit indie bisa kehilangan otonomi kreatif jika terlalu ditekan untuk mengejar keuntungan. Namun, Elliot berjanji bahwa Playstack akan tetap independen dalam pengambilan keputusan editorial.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model bisnis Playstack yang mengandalkan gim-gim inovatif dan berisiko tinggi tetap dipertahankan, atau akan bergeser ke arah yang lebih komersial. Jawabannya akan menentukan apakah akuisisi ini menjadi kisah sukses atau sekadar catatan kaki dalam sejarah game indie.



