Suporter PSIM Turun ke Tembok: Mural Massal Desak Tuntasnya Kasus Korupsi Mandala Krida
Baca dalam 60 detik
- Guyub Seni Mataram menggelar aksi mural serentak di Yogyakarta sebagai protes atas lambannya penanganan korupsi renovasi Stadion Mandala Krida.
- Aksi ini merupakan respons terhadap pernyataan pejabat yang membatasi aktivitas suporter di media sosial, mengalihkan kritik ke ruang publik.
- Suporter berharap penyelesaian kasus dapat mengembalikan fungsi stadion untuk PSIM dan masyarakat luas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7556608/original/046577300_1780333769-1000119708.jpg)
Ribuan suporter PSIM Yogyakarta yang tergabung dalam Guyub Seni (GS) Mataram menggelar aksi mural serentak pada Senin (1/6/2026) sebagai bentuk desakan agar kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida segera diusut tuntas. Aksi ini menjadi puncak kegelisahan suporter yang merasa proses hukum berjalan lamban, sementara stadion kebanggaan mereka terbengkalai.
Perwakilan GS Mataram, Wage, mengungkapkan bahwa aksi mural ini dipicu oleh pernyataan pejabat setempat yang dianggap mengekang suara suporter di media sosial. “Kalau tidak boleh berisik di medsos, kami akan berisik di media lain lewat mural. Langsung turun ke jalan dan bertemu masyarakat,” ujarnya. Mural dipilih sebagai medium yang lebih dekat dengan warga, sekaligus mengajak publik melihat langsung kondisi Mandala Krida yang memprihatinkan.
Seluruh laskar suporter, termasuk Brajamusti dan The Maident, bergerak serempak dengan tema yang sama, namun setiap kelompok diberi kebebasan berkreasi sesuai ciri khas wilayah masing-masing. Aksi ini tidak terbatas pada suporter; GS Mataram membuka partisipasi bagi komunitas seni dan masyarakat umum yang peduli terhadap nasib stadion. “Mandala Krida bukan hanya milik suporter, tetapi fasilitas yang digunakan banyak cabang olahraga dan masyarakat luas,” tegas Wage.
Pengerjaan mural di lingkungan sendiri dipilih untuk memperkuat komunikasi dengan warga sekitar. Wage menjelaskan, pendekatan ini membuat pesan yang disampaikan lebih membekas. “Kami ingin melihat bagaimana respons warga Jogja dengan keadaan Mandala Krida sekarang ini,” katanya. Aksi ini juga menjadi ajang edukasi publik tentang pentingnya transparansi dalam pengelolaan aset daerah.
Kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida telah menjadi sorotan sejak beberapa tahun lalu. Proyek yang seharusnya meningkatkan fasilitas olahraga di Yogyakarta justru tersandung dugaan penyelewengan anggaran. Hingga kini, proses hukum belum menunjukkan titik terang, sementara stadion tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Suporter mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas, tidak hanya dari sisi pidana tetapi juga administrasi dan perbaikan fasilitas.
Harapan suporter, penyelesaian kasus ini akan mengembalikan fungsi stadion sebagai pusat kegiatan olahraga dan hiburan. “PSIM dapat menggunakannya dengan tenang untuk menghadapi musim depan,” ucap Wage. Namun, tanpa kepastian hukum, masa depan Mandala Krida masih diselimuti ketidakjelasan. Akankah aksi mural ini menjadi titik balik dalam pengusutan kasus korupsi yang telah lama menggerogoti kepercayaan publik?



