Spanyol di Piala Dunia 2026: Ketergantungan pada Sayap Muda dan Bayang-Bayang Cedera
Baca dalam 60 detik
- Lamine Yamal dan Nico Williams, bintang sayap Spanyol, masih dalam pemulihan cedera hamstring menjelang Piala Dunia 2026, mengancam ketajaman serangan La Roja.
- Tanpa kedua pemain kunci, Spanyol mengandalkan Dani Olmo dan Mikel Oyarzabal, namun kedalaman skuad di posisi sayap menjadi keraguan utama.
- Catatan sejarah kurang berpihak: hanya dua kali juara Eropa berhasil memenangi Piala Dunia dua tahun kemudian, terakhir dilakukan Spanyol pada 2010.

Kebugaran dua sayap muda, Lamine Yamal dan Nico Williams, menjadi penentu utama ambisi Spanyol merebut gelar juara Piala Dunia 2026. Tanpa keduanya dalam kondisi puncak, serangan La Roja berisiko kehilangan kecepatan dan variasi yang menjadi senjata utama saat menjuarai Euro 2024.
Pelatih Luis de la Fuente menghadapi dilema: memaksakan kedua pemain tampil sejak awal atau mengistirahatkan mereka di dua laga awal melawan Cape Verde dan Arab Saudi. Keputusan ini krusial mengingat Yamal dan Williams sama-sama mengalami cedera hamstring. Williams bahkan telah bergelut dengan masalah pangkal paha sepanjang musim sebelum cedera bertambah parah pada Mei lalu.
Jika keduanya absen, De la Fuente masih memiliki Dani Olmo yang serbabisa di lini tengah serang. Pemain yang tampil gemilang di fase gugur Euro 2024 itu bisa menjadi solusi sementara. Namun, tanpa ancaman langsung dari sisi sayap, Spanyol kehilangan dimensi vertikal yang membedakan mereka dari tim-tim penguasaan bola tradisional.
Di sisi lain, kedalaman skuad Spanyol tetap patut diperhitungkan. Mikel Oyarzabal, pencetak gol kemenangan di final Euro 2024, kini menjadi starter reguler dan top skor bersama di kualifikasi dengan enam gol. Fabian Ruiz dari PSG juga tampil impresif dengan kemampuannya merebut bola di sepertiga akhir lapanganโ14 kali selama turnamen, dua kali lipat dari pemain mana pun. Sementara itu, bek tengah Pau Cubarsi (19 tahun) dinilai masih kurang pengalaman untuk menjadi starter di turnamen sebesar ini.
Pelatih Luis de la Fuente, yang telah menangani tim nasional Spanyol sejak 2013 dan sukses di level U-19 dan U-21, mendapat pujian atas pendekatan humanisnya. Ia menandatangani kontrak baru hingga Euro 2028. Namun, tantangan terbesarnya adalah mematahkan kutukan juara Eropa: sejak 1990, hanya dua kali juara Eropa bertahan mampu memenangi lebih dari satu pertandingan di Piala Dunia berikutnya.
Spanyol sendiri pernah mematahkan tren tersebut pada 2010, tetapi skuad saat itu sangat berbeda. Hampir seluruh starter di final 2010 berasal dari Real Madrid atau Barcelona, sementara starting XI di final Euro 2024 diisi pemain dari sepuluh klub berbeda. Ketiadaan pemain Real Madrid di skuad menjadi catatan tersendiri. De la Fuente menegaskan tidak peduli asal klub pemain, yang penting adalah kontribusi mereka.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 menarik untuk diikuti karena gaya bermain atraktif mereka dan potensi sejarah yang tercipta. Apakah generasi emas baru ini mampu mengulang prestasi 2010, atau justru menjadi korban dari beban juara Eropa? Jawabannya akan mulai terlihat di laga perdana melawan Cape Verde.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8032023/original/092652300_1780873555-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8059711/original/097057200_1780903602-sty-3.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7591053/original/027682300_1780373467-Media_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8059710/original/040494800_1780903602-sty-2.jpg.jpeg)