Cedera Ankle, Bek Andalan Timnas Wanita Inggris Mundur dari Skuad Kualifikasi Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Taylor Hinds mengalami cedera pergelangan kaki dan dipulangkan ke Arsenal untuk pemulihan, meninggalkan skuad Lionesses yang tengah bersiap menghadapi Spanyol.
- Inggris hanya butuh hasil imbang melawan Spanyol untuk memastikan tiket ke Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil, turnamen yang akan diikuti 32 tim.
- Cedera ini menjadi pengingat akan pentingnya kedalaman skuad, terutama bagi tim-tim seperti Indonesia yang mulai serius mengembangkan sepak bola wanita.

Bek sayap Arsenal, Taylor Hinds, dipastikan absen membela Timnas Wanita Inggris dalam laga krusial kualifikasi Piala Dunia 2027 melawan Spanyol akhir pekan ini. Pemain berusia 25 tahun itu mengalami cedera pergelangan kaki saat latihan pekan lalu dan telah kembali ke klubnya untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
Kepergian Hinds menjadi pukulan bagi pelatih Sarina Wiegman, yang tengah mempersiapkan tim menghadapi laga berat di Estadi Mallorca Son Moix, Palma, Jumat (30/5) malam. Inggris hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan satu tempat di putaran final Brasil tahun depan. Kekalahan bisa membuat jalan mereka ke Amerika Selatan menjadi lebih rumit, mengingat persaingan di Grup A masih ketat.
Hinds merupakan bagian dari generasi emas Inggris yang meraih medali perunggu di Piala Dunia Wanita U-20 2018 di Prancis. Sejak promosi ke tim senior, ia kerap menjadi opsi andalan di sisi kiri pertahanan. Tanpa dirinya, Wiegman kemungkinan akan mengandalkan Niamh Charles atau Alex Greenwood yang juga memiliki pengalaman bermain di posisi serupa.
Setelah laga kontra Spanyol, Lionesses akan kembali ke kandang untuk menjamu Ukraina di markas Everton, Hill Dickinson Stadium, pada 9 Juni. Laga tersebut bisa menjadi ajang pembuktian bagi pemain pengganti jika Inggris sudah memastikan tiket lebih awal. Namun, jika hasil di Palma tidak sesuai harapan, tekanan akan meningkat jelang laga penentuan.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Prestasi Inggris yang konsisten di level atas menunjukkan betapa pentingnya pembinaan usia muda dan kompetisi domestik yang ketat. Indonesia, yang tengah gencar mengembangkan sepak bola wanita melalui program Liga 1 Putri dan pembinaan usia dini, bisa belajar dari kedalaman skuad yang dimiliki Inggris. Cedera seperti yang dialami Hinds kerap menjadi ujian bagi federasi: seberapa siap tim pengganti untuk tampil di panggung besar?
Pertandingan melawan Spanyol juga akan menjadi ujian taktik yang menarik. Spanyol, yang dikenal dengan penguasaan bola dan pressing tinggi, akan mencoba memanfaatkan absennya Hinds di sisi pertahanan Inggris. Wiegman, yang dikenal pragmatis, kemungkinan akan menyesuaikan formasi untuk menutup celah tersebut. Apakah Inggris mampu mempertahankan rekor tak terkalahkan di kualifikasi? Atau justru Spanyol yang akan memperumit jalan mereka menuju Brasil?



