Kolonialisme Digital di Amazon: Internet Bawa Manfaat Sekaligus Ancaman Baru bagi Suku Asli
Baca dalam 60 detik
- Peneliti mengidentifikasi fenomena 'kolonialisme digital' di komunitas adat Amazon, di mana akses internet justru memicu kecanduan gawai dan kerusakan sosial.
- Anak-anak dan remaja suku asli mengalami gejala putus obat seperti agresivitas dan kecemasan saat ponsel diambil, sementara orang dewasa rentan terhadap penipuan daring.
- Para akademisi mendesak agar program digitalisasi tidak sekadar menyediakan koneksi, tetapi juga pendampingan literasi digital dan mitigasi dampak psikososial.

Internet yang mulai merambah pedalaman Amazon melalui antena Starlink dan panel surya membawa dilema baru: di satu sisi menyelamatkan jiwa lewat akses darurat kesehatan, di sisi lain memicu fenomena yang disebut para peneliti sebagai 'kolonialisme digital'—sebuah bentuk ketergantungan teknologi yang mengikis tradisi dan kesehatan mental suku asli.
Studi etnografi yang dilakukan Higor Leite dari Universidade Federal do Pará bersama tim peneliti internasional mengungkap realitas pahit di balik janji inklusi digital. Selama seminggu di komunitas terpencil negara bagian Pará, Brasil, Leite menyaksikan anak-anak dan remaja tenggelam dalam layar ponsel, mengabaikan interaksi sosial dan kegiatan budaya seperti berburu serta memancing. "Mereka berkumpul di bawah pohon, tapi masing-masing asyik dengan gawainya sendiri," tulis tim dalam laporan yang diterbitkan The Conversation.
Fenomena ini bukan sekadar soal screen time berlebih. Para tetua dan guru dari beberapa suku melaporkan bahwa penggunaan ponsel telah menjadi kompulsif, setara dengan kecanduan alkohol atau narkoba. Beberapa warga bahkan membalik siklus tidur—beraktivitas di malam hari demi waktu online maksimal. Ketika akses perangkat dihentikan, muncul gejala putus obat: agresivitas, kecemasan, gangguan tidur, dan dalam kasus ekstrem, muncul pikiran atau percobaan bunuh diri.
Paradoksnya, akses internet juga membawa manfaat nyata. Komunikasi dengan keluarga di kota dan suku lain menjadi lebih mudah. Layanan darurat kesehatan kini bisa diakses cepat—masyarakat dapat menghubungi sistem kesehatan, mendapat panduan awal, dan mengatur evakuasi udara. "Teknologi bisa menyelamatkan jiwa," kata tim peneliti. Namun, mereka menekankan bahwa efek positif ini tidak otomatis menghapus sisi gelapnya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat banyak komunitas adat di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi juga mulai terpapar internet tanpa pendampingan memadai. Program "Internet Masuk Desa" atau inisiatif serupa harus mempertimbangkan risiko psikososial, bukan sekadar infrastruktur. Tanpa literasi digital dan dukungan kesehatan mental, konektivitas justru bisa menjadi alat kolonialisme baru yang menggerus identitas budaya.
Tim peneliti berencana mengembangkan solusi terapan di empat area: edukasi digital, moderasi konten, dukungan psikososial, dan penguatan praktik tradisional. Pertanyaan kuncinya: mampukah pemerintah dan penyedia layanan merancang koneksi yang memberdayakan tanpa menghancurkan? Atau, seperti yang terjadi di Amazon, masyarakat adat hanya akan menerima versi konektivitas yang setengah matang—menguntungkan sekaligus merusak?



