Lebih dari Sekadar Winger: Tottenham Lebih Butuh Palhinha daripada Savinho
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur dikabarkan lebih memprioritaskan perekrutan permanen Joao Palhinha dengan biaya 26 juta pound, di tengah persaingan dengan Sporting Lisbon.
- Gelandang bertahan asal Portugal itu dinilai sebagai solusi tepat untuk mengatasi masalah pertahanan Spurs, setelah musim lalu menjadi pemain dengan tekel terbanyak di Premier League.
- Savinho, winger Manchester City yang minim menit bermain, dianggap kurang cocok dengan kebutuhan taktis Roberto De Zerbi yang sudah memiliki opsi melimpah di sayap kanan.

Tottenham Hotspur tengah bergerak cepat di bursa transfer musim panas ini setelah memastikan tempat di Premier League musim depan. Namun, di tengah rumor kedatangan Andy Robertson dan Marcos Senesi secara gratis, serta Savinho dari Manchester City, satu nama justru dinilai lebih krusial: Joao Palhinha. Gelandang bertahan berusia 30 tahun yang musim lalu dipinjam dari Bayern Munich itu dikabarkan menjadi prioritas utama manajer Roberto De Zerbi.
Menurut laporan Fabrizio Romano, Palhinha memberikan prioritas kepada Tottenham dan hubungannya dengan De Zerbi sangat baik. Sporting Lisbon memang berminat membawanya kembali ke Portugal, tetapi Spurs diyakini akan mengaktifkan opsi pembelian permanen senilai 26 juta pound. Angka tersebut terbilang murah mengingat kontribusinya yang vital: gol penentu kemenangan melawan Everton di laga terakhir musim lalu menyelamatkan Spurs dari degradasi.
Keputusan untuk merekrut Palhinha menjadi semakin masuk akal jika melihat data statistik. Musim 2025/26, ia mencatatkan rata-rata 4,51 tekel per 90 menit—terbanyak di skuad Tottenham sekaligus di seluruh Premier League. Tak hanya itu, ia juga memimpin dalam duel tanah (6,43 per 90 menit). Analis rekrutmen Marcus Bring bahkan menyebutnya sebagai "monster" karena keganasannya di lini tengah. Palhinha adalah perekat yang menyatukan permainan bertahan Spurs, sesuatu yang sangat dibutuhkan setelah musim penuh cedera.
Di sisi lain, perburuan terhadap Savinho terlihat kurang mendesak. Winger Brasil itu hanya tampil tujuh kali sebagai starter di Premier League musim lalu dan mencetak satu gol. Meski potensial, ia bukanlah pemain yang bisa langsung meningkatkan level permainan (ceiling raiser) yang diinginkan De Zerbi. Apalagi, Tottenham sudah memiliki opsi mumpuni di sayap kanan seperti Mohammed Kudus dan Dejan Kulusevski. Mengingat cedera Xavi Simons yang berkepanjangan, Spurs lebih membutuhkan gelandang serang kreatif, bukan winger murni.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Tottenham di bursa transfer ini menarik untuk diikuti. Klub-klub Premier League kerap menjadi barometer bagi pemain-pemain Asia Tenggara yang ingin berkarier di Eropa. Jika Palhinha resmi berseragam Spurs, ia akan menjadi contoh gelandang bertahan tangguh yang bisa dijadikan acuan bagi pemain muda Indonesia yang bercita-cita bermain di liga top Eropa. Selain itu, keputusan Tottenham untuk memprioritaskan pemain bertahan ketimbang penyerang menunjukkan tren bahwa stabilitas lini belakang lebih berharga daripada sekadar membeli bintang baru.
Dengan skuad yang mulai terbentuk, De Zerbi harus segera menentukan prioritas. Apakah ia akan mengamankan Palhinha sebagai fondasi lini tengah, atau justru berinvestasi pada Savinho yang masih mentah? Mengingat performa impresif Palhinha dan biaya yang relatif terjangkau, opsi pertama tampaknya jauh lebih masuk akal. Pertanyaannya, mampukah Tottenham menyelesaikan kesepakatan ini sebelum Sporting atau klub lain menyalip?



