Terbang Berbulan-bulan Tanpa Mendarat, Burung Cikalang Tidur Hanya 42 Menit Sehari
Baca dalam 60 detik
- Burung cikalang besar (Fregata minor) hanya tidur 42 menit per hari saat terbang, terbagi dalam episode 10 detik, dengan separuh otak tetap waspada.
- Adaptasi ini memungkinkan mereka terbang hingga dua bulan tanpa mendarat, karena bulu yang tidak tahan air dan kaki lemah mencegah istirahat di laut.
- Penelitian di Galápagos mengungkap tiga mode tidur unik, termasuk REM singkat, yang menantang pemahaman tentang kebutuhan istirahat pada hewan.

Burung cikalang besar (Fregata minor) mampu terbang tanpa henti selama berminggu-minggu hingga dua bulan, dan kini para ilmuwan memastikan rahasianya: mereka tidur hanya 42 menit per hari di udara, terbagi dalam puluhan ribu episode singkat masing-masing sekitar 10 detik. Temuan yang dipublikasikan di Nature Communications ini menjawab misteri lama tentang bagaimana burung laut dapat beristirahat di tengah penerbangan lintas samudra tanpa pernah mendarat.
Peneliti dari Max Planck Institute, dipimpin Niels Rattenborg, memasang perekam ensefalogram (EEG) mini pada 14 ekor burung cikalang betina di Kepulauan Galápagos. Hasilnya menunjukkan bahwa saat terbang, burung ini hanya tidur 7,4 persen dari waktu tidur normal mereka di darat yang mencapai 12 jam per hari. Istirahat singkat itu terjadi terutama setelah matahari terbenam, saat burung melayang melingkar di arus udara panas—sebuah strategi efisien untuk memulihkan energi tanpa mengorbankan kewaspadaan.
Mekanisme utama yang memungkinkan hal ini adalah unihemispheric slow-wave sleep (USWS), atau tidur dengan satu belahan otak. Saat mode ini aktif, satu sisi otak memasuki fase tidur dalam sementara sisi lain tetap terjaga, dengan mata yang terhubung ke belahan sadar tetap terbuka untuk memantau predator atau peluang makan. Adaptasi ini tidak unik pada cikalang—bebek dan burung pipit juga menggunakannya di darat—namun menjadi krusial bagi burung yang melintasi samudra luas tanpa tempat berteduh.
Selain USWS, cikalang juga mampu menidurkan kedua belahan otak secara bersamaan selama beberapa menit, memberikan istirahat lebih restoratif meski berisiko. Yang paling menarik adalah fase REM (rapid eye movement) yang hanya berlangsung beberapa detik—jauh lebih singkat dibanding mamalia—namun tetap memungkinkan konsolidasi memori, seperti pola cuaca dan rute terbang. Selama REM, kepala burung terangguk-angguk, namun pola terbangnya stabil karena burung mempertahankan kontrol otot, berbeda dengan manusia yang lumpuh total saat bermimpi.
Pertanyaan mengapa cikalang tidak sekadar mendarat di air seperti albatros atau petrel terjawab oleh anatomi: bulu mereka tidak tahan air dan kaki terlalu lemah untuk mengapung. Jika jatuh ke laut, bulu akan basah, menyebabkan kehilangan isolasi dan risiko tenggelam. Keterbatasan ini memaksa mereka bertahan di udara hingga dua bulan, hanya kembali ke darat untuk berkembang biak. Perbandingan dengan spesies lain menunjukkan variasi adaptasi: penguin chinstrap tidur hingga 10.000 kali sehari dengan durasi 4 detik, sementara burung swift biasa bisa terbang 10 bulan tanpa mendarat—meski mekanisme tidurnya masih misteri karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil untuk membawa alat perekam.
Temuan ini membuka wawasan baru tentang batas fisiologis tidur pada hewan dan relevansinya bagi manusia, terutama dalam konteks penerbangan jarak jauh atau misi luar angkasa. Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman burung laut di kawasan timur seperti Maluku dan Papua, penelitian semacam ini dapat mendorong konservasi habitat dan studi adaptasi lokal. Apakah spesies burung laut Nusantara memiliki trik serupa? Pertanyaan itu masih menunggu jawaban dari para peneliti Tanah Air.



