Tabrakan Maut di Suriah: 35 Tewas, Jalan Raya Jadi Kuburan Massal
Baca dalam 60 detik
- Tabrakan antara bus militer dan bus sipil di gurun Suriah timur menewaskan setidaknya 35 orang dan melukai 30 lainnya.
- Menteri Darurat Suriah menyebut insiden ini sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti kondisi jalan rusak akibat perang.
- Kecelakaan ini menjadi pengingat bagi negara dengan infrastruktur rentan, termasuk Indonesia, akan urgensi pemeliharaan jalan secara berkala.

Setidaknya 35 orang tewas dan 30 lainnya luka-luka dalam tabrakan dua bus penumpang di jalan gurun yang menghubungkan Damaskus dan Deir Ezzor, Suriah timur tengah, pada Sabtu (25/7). Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan lalu lintas paling mematikan di negara yang dilanda perang saudara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut kantor berita negara SANA, yang mengutip pernyataan pejabat Kementerian Kesehatan, kecelakaan terjadi pada pagi hari di ruas jalan yang dikenal sepi dan rawan kecelakaan. Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi bahwa salah satu bus membawa personel pasukan keamanan internal, sementara bus lainnya adalah kendaraan sipil. Jumlah pasti korban dari masing-masing kelompok belum diungkapkan.
Rekaman dari televisi negara menunjukkan api menjilat badan bus yang hancur, sementara puing-puing berserakan di aspal. Helikopter militer dikerahkan untuk mengevakuasi korban luka ke rumah sakit terdekat. Menteri Penanggulangan Bencana dan Darurat, Raed Al Saleh, menggambarkan insiden ini sebagai โtragedi nasionalโ yang menuntut respons kolektif. โKecelakaan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,โ ujarnya, seperti dilaporkan SANA.
Al Saleh juga menekankan bahwa bencana ini menyoroti kondisi infrastruktur jalan Suriah yang semakin buruk akibat lebih dari satu dekade perang saudara dan pengabaian. Direktur Transportasi Jalan Damaskus, Moaz Najjar, mengakui bahwa sebagian besar jalan nasional belum mendapatkan perbaikan berarti dalam 15 tahun. Pemerintah setempat telah memerintahkan prioritas pemeliharaan di kawasan timur, namun realisasi di lapangan masih terhambat keterbatasan dana dan keamanan.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya investasi keselamatan jalan. Di berbagai daerah, terutama di jalur penghubung antarkota, kondisi jalan yang rusak dan minim rambu sering kali menjadi faktor utama kecelakaan beruntun. Data Badan Pusat Statistik mencatat lebih dari 25.000 kecelakaan lalu lintas terjadi setiap tahun, dengan infrastruktur sebagai salah satu pemicu. Peristiwa di Suriah memperlihatkan bagaimana kelalaian pemeliharaan jalan dapat berakibat fatal dalam hitungan detik.
Ke depan, pemerintah Suriah dituntut untuk segera memperbaiki jaringan jalan yang hancur, sementara masyarakat dunia menyoroti perlunya pendekatan komprehensif dalam keselamatan transportasi. Akankah negara-negara lain, termasuk Indonesia, belajar dari tragedi ini? Atau justru menunggu kecelakaan serupa terjadi di halaman sendiri?



