Perang Iran Meluas ke Laut Merah dan Kaspia, Teluk Justru Mereda
Baca dalam 60 detik
- Meskipun AS menghentikan sementara serangan udara, sekutu Iran melancarkan serangan balasan di dua front berbeda: Houthi menyerang Saudi di Laut Merah dan Iran menuduh Ukraina menyerang kapalnya di Laut Kaspia.
- Eskalasi ini mengancam jalur pelayaran kritisโSelat Hormuz dan Laut Merahโyang bisa mendisrupsi pasokan energi global dan mendorong harga minyak mentah naik.
- Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak akibat konflik akan membebani subsidi energi dan membutuhkan antisipasi kebijakan fiskal yang hati-hati.

Tanda-tanda meluasnya perang antara Amerika Serikat dan Iran mulai terlihat akhir pekan ini, meskipun Washington menghentikan sementara rentetan serangan udara yang berlangsung 13 malam berturut-turut.
Di Laut Merah, kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang instalasi minyak milik Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu. Serangan itu memicu kepulan asap besar dan menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Ukraina menyerang kapal dagang Iran di Laut Kaspia, menewaskan satu awak dan melukai lainnya. Ukraina, melalui Presiden Volodymyr Zelenskiy, memuji hasil "serangan jarak jauh" di Kaspia tanpa menyebut target, tetapi Iran mengecam aksi tersebut sebagai tindakan "hostil dan kriminal."
Presiden AS Donald Trump, berdasarkan laporan New York Times, memilih untuk tidak meningkatkan serangan ke Iran dengan alasan kekhawatiran akan meluasnya konflik, menipisnya stok pertahanan, dan dampak negatif terhadap ekonomi global. Namun, sekutu Iran justru meningkatkan aksi mereka, menunjukkan bahwa perang telah melewati batas geografis Teluk Persia dan mengancam jalur pelayaran penting lainnya.
Eskalasi ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Laut Merah dapat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak yang akan membebani anggaran subsidi energi. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai potensi dampak inflasi dan menyiapkan langkah-langkah stabilisasi harga, termasuk optimalisasi cadangan strategis.
Ketegangan di Laut Merah diperparah oleh pernyataan Houthi yang mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi dan mengancam seluruh fasilitas minyak Saudi sebagai target. Pada Kamis pekan lalu, Houthi menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah. Sementara itu, AS tetap memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan baru-baru ini menembaki sebuah kapal yang mencoba menerobos di Teluk Oman. Sikap Trump yang disebutnya lebih memilih diplomasi belum menghasilkan jeda yang berarti di lapangan.
Di sisi lain, Iran menuduh Ukraina bekerja sama dengan intelijen asing. Zelenskiy sebelumnya mengeklaim bahwa Rusia memberikan data satelit Timur Tengah kepada Iran untuk mengarahkan serangan. Tudingan ini menambah dimensi baru dalam konflik yang sudah rumit.
Dengan gencatan senjata Yaman yang sudah runtuh dan kemampuan Houthi untuk menyerang infrastruktur minyak Saudi, pertanyaan besarnya adalah seberapa jauh Iran dan sekutunya akan mendorong konfrontasi. Apakah AS dan sekutunya akan kembali ke meja perundingan, atau justru memperluas operasi militer ke front baru? Jawabannya akan menentukan stabilitas kawasan dan dampaknya bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.



