Hattrick Juara Tanpa Pamit: Bojan Hodak Tinggalkan Persib Tanpa Seremoni Perpisahan
Baca dalam 60 detik
- Bojan Hodak mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih Persib Bandung tanpa acara perpisahan resmi dari klub, meski sukses membawa tim meraih tiga gelar beruntun.
- Manajemen Persib mengaku kesulitan mencari momen yang tepat karena fokus penuh pada perburuan gelar hingga peluit akhir kompetisi.
- Hodak kini beralih peran menjadi Shareholder Group Technical Advisor, sementara masa depannya di klub lain masih diselimuti ketidakjelasan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6736452/original/085138800_1779548782-ChatGPT_Image_May_23__2026__10_04_01_PM.jpg)
Kepergian Bojan Hodak dari kursi pelatih Persib Bandung meninggalkan cerita pahit manis: sukses mengukir hattrick juara, namun tanpa seremoni perpisahan yang layak. Pelatih asal Kroasia itu harus meninggalkan Maung Bandung dengan cara yang sunyi, tanpa acara khusus yang mencerminkan besarnya jasa yang telah ia berikan.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, mengakui bahwa manajemen tidak menyiapkan agenda perpisahan resmi untuk Hodak. Alasannya, seluruh konsentrasi klub tertuju pada perburuan gelar BRI Super League 2025/2026 yang baru dipastikan pada menit-menit akhir kompetisi. “Semuanya memang fokus dulu ke juara. Ya, agak susah cari momen yang tepatnya karena kami baru dipastikan juara setelah pluit ditiupkan,” ujar Adhitia.
Ketidakmampuan mengatur waktu menjadi kendala utama. Berbeda dengan klub yang sudah memastikan gelar lebih awal, Persib harus berjuang hingga detik terakhir. Setelah juara dipastikan, rangkaian perayaan seperti pawai kemenangan menyita waktu dan tenaga, sehingga momen untuk menggelar acara perpisahan tak pernah tercipta. “Akhirnya momennya baru ada di hari Senin (25/5/2026) karena Minggu (24/5/2026) kita pawai, capek lah segala macam, Senin baru bisa selesai,” tambah Adhitia.
Meski tanpa seremoni megah, Hodak secara pribadi berpamitan dengan manajer sekaligus Komisaris PT PBB, Umuh Muchtar, serta seluruh pemain dan ofisial tim di sebuah restoran seafood di Sumedang. Momen tersebut menjadi satu-satunya bentuk perpisahan yang mengharukan, namun tetap menyisakan pertanyaan tentang penghargaan klub terhadap pelatih tersuksesnya.
Adhitia menegaskan bahwa ketiadaan acara perpisahan bukan karena minim apresiasi. “Intinya memang momennya enggak ada dan berjalan begitu aja. Fokus utama klub juara dan Bojan juga punya fokus yang sama, juara gitu,” ucapnya. Namun, publik sepak bola Indonesia menilai seharusnya klub bisa mengatur waktu lebih baik untuk memberi penghormatan yang pantas.
Kepergian Hodak juga membawa konsekuensi pada masa depannya. Ia kini menjabat sebagai Shareholder Group Technical Advisor, namun saat ditanya mengenai kemungkinan klausul khusus jika ia menerima tawaran klub lain, Adhitia enggan berkomentar. “Itu yang bisa jawab legal sama top manajemen lah. Saya enggak dalam porsinya untuk menjawab itu,” kilahnya.
Bagi Persib, kehilangan Hodak bukan hanya soal prestasi, tetapi juga identitas permainan yang telah dibangunnya. Pertanyaan besar kini menggantung: mampukah Persib mempertahankan dominasi tanpa arsitek hattrick mereka? Atau justru babak baru tanpa Hodak akan menjadi ujian sesungguhnya bagi manajemen dan skuad Maung Bandung?



