Krisis FIGC: Pirlo Tersingkir, Maldini Ancam Mundur, Masa Depan Italia di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo mengkonfirmasi dirinya tidak lagi menjadi calon pelatih timnas Italia setelah mendapat tekanan politik.
- Ketua FIGC Giovanni Malagò dikabarkan membatalkan penunjukan Pirlo di bawah tekanan, memicu ancaman pengunduran diri Paolo Maldini.
- Nama Roberto Mancini dan Thiago Motta muncul sebagai kandidat pengganti, sementara kredibilitas federasi dipertanyakan.

Andrea Pirlo dipastikan tidak akan menjadi pelatih baru timnas Italia setelah federasi sepak bola Italia (FIGC) membatalkan pencalonannya di bawah tekanan politik—keputusan yang justru memicu kekacauan di tubuh federasi dan mengancam pengunduran diri dua figur kunci, Paolo Maldini dan Leonardo.
Pirlo, legenda yang sempat menjadi kandidat terkuat untuk menjabat sebagai Commissario Tecnico (CT), mengungkapkan melalui media sosial bahwa ia diberitahu pada Minggu malam bahwa namanya tidak lagi dipertimbangkan. Keputusan ini dikonfirmasi oleh berbagai sumber di Italia, yang menyebut Presiden FIGC Giovanni Malagò mengambil langkah tersebut setelah mendapatkan desakan dari pihak-pihak tertentu.
Kekacauan ini diperparah dengan laporan bahwa Paolo Maldini—yang baru dua pekan lalu diangkat sebagai direktur teknis—bersama penasihat khusus Leonardo, berencana mundur. Sky Sport Italia mengklaim keduanya telah mengambil keputusan tersebut dan akan segera merilis pernyataan resmi. Maldini sebelumnya merupakan pendukung utama penunjukan Pirlo, dan pembatalan ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap proyek yang telah dirancang.
Dalam pernyataan yang disampaikan setelah rapat, Malagò melontarkan sindiran tajam kepada Pirlo, Maldini, dan Menteri Olahraga Andrea Abodi. "Abodi bilang kita dipermalukan? Itu tergantung siapa yang membuat malu," ujarnya, menolak bertanggung jawab atas situasi ini. Ia juga menegaskan bahwa "kita harus memulihkan kredibilitas di tingkat atas." Sementara itu, legenda Italia Gianni Rivera mengecam keterlibatan Pirlo dengan perusahaan judi daring asal Rusia, menyebutnya tidak pantas menjadi simbol tim nasional.
Krisis ini menimbulkan pertanyaan serius tentang arah sepak bola Italia. Kegagalan lolos ke dua Piala Dunia terakhir menunjukkan bahwa masalah tidak hanya terletak pada pelatih, tetapi juga pada sistem federasi yang kerap diwarnai intrik politik. Di Indonesia, situasi serupa pernah terjadi di PSSI, di mana keputusan teknis kerap dikalahkan oleh kepentingan politik. Pengamat sepak bola menilai bahwa tanpa reformasi mendasar, baik Italia maupun Indonesia akan terus terperangkap dalam siklus yang sama.
Ke depannya, semua mata tertuju pada keputusan Malagò—apakah ia akan memilih Mancini yang berpengalaman atau Thiago Motta yang lebih muda. Namun, lebih dari sekadar nama, pertanyaan terbesarnya adalah: akankah FIGC mampu keluar dari pusaran politik dan mengembalikan kepercayaan publik?



