John Herdman Panggil Mathew Baker ke Timnas Senior: Lompatan Karir atau Sekadar Pengalaman?
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengejutkan publik dengan memanggil pemain muda Mathew Baker untuk FIFA Matchday melawan Oman dan Mozambik.
- Baker juga dibutuhkan Timnas U-19 di Piala AFF U-19 2026, memicu spekulasi soal prioritas dan pembagian waktu bermain.
- Pengamat Malaysia Raja Isa memuji langkah Herdman sebagai strategi pembinaan pemain muda, serupa dengan yang dilakukan Shin Tae-yong pada Marselino Ferdinan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5180581/original/053767000_1743787310-GntEocNb0AAME5J.jpeg)
Keputusan John Herdman memanggil Mathew Baker ke skuad senior Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday melawan Oman (5 Juni) dan Mozambik (9 Juni) di Stadion GBK Jakarta menjadi sorotan. Pemain muda berusia 17 tahun itu baru saja menjadi kapten Timnas U-17 di Piala Asia U-17 Arab Saudi, dan kini harus bersiap menghadapi dua laga internasional level dewasa dalam waktu berdekatan.
Yang membuat situasi ini unik, Baker juga masuk dalam rencana pelatih Nova Arianto untuk Timnas U-19 yang akan berlaga di Piala AFF U-19 2026 di Medan pada 1β7 Juni. Artinya, dalam rentang waktu yang sama, Baker bisa tampil di dua ajang berbeda: senior di Jakarta dan junior di Medan. Pertanyaannya, apakah ia akan menjadi pemain inti di kedua tim atau hanya menjadi 'penghangat bangku' di level senior?
Pengamat sepak bola asal Malaysia, Raja Isa, menilai langkah Herdman sebagai bentuk apresiasi terhadap kolaborasi antar-pelatih. "Nova Arianto rela melepas pemainnya agar berkembang, sementara John Herdman memberi pengalaman pemain muda merasakan atmosfer pertandingan senior. Ini pencapaian luar biasa bagi seorang pemain muda," ujarnya. Menurut Raja Isa, Baker bukanlah pemain pertama yang mendapat kesempatan seperti ini; sebelumnya Marselino Ferdinan juga diorbitkan Shin Tae-yong ke tim senior saat masih berusia belia.
Raja Isa tidak mempermasalahkan jika Herdman hanya memberikan Baker menit bermain singkat, misalnya lima menit di akhir laga. "Banyak cara untuk menempa pemain muda. Jika situasi Timnas Indonesia unggul, John Herdman pasti memberi waktu bermain. Meski hanya lima menit, itu sudah menjadi pengalaman berharga," jelasnya. Ia menambahkan bahwa atmosfer pertandingan level tinggi akan mempercepat adaptasi Baker ke sepak bola profesional.
Di sisi lain, keputusan ini juga memunculkan dilema logistik. Baker harus membagi waktu antara latihan bersama tim senior di Jakarta dan kemungkinan bergabung dengan Timnas U-19 di Medan. Jarak kedua kota yang mencapai 1.800 kilometer membuat perjalanan bolak-balik dalam waktu singkat menjadi tantangan tersendiri. Namun, PSSI belum memberikan pernyataan resmi terkait skema pembagian waktu pemain tersebut.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Herdman ini bisa dibaca sebagai upaya mempercepat regenerasi pemain. Dengan rata-rata usia skuad senior yang masih cukup muda, kehadiran Baker diharapkan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga bagian dari proses transisi jangka panjang. Apakah Baker akan menjadi bintang masa depan seperti Marselino? Atau justru terhambat oleh padatnya jadwal? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



