Setengah Abad Penantian Berakhir: Burung Ibis Jambul Kembali ke Alam Liar Honshu
Baca dalam 60 detik
- Delapan ekor burung ibis jambul dilepasliarkan di Prefektur Ishikawa, menandai kembalinya spesies tersebut ke daratan utama Jepang setelah 56 tahun.
- Populasi ibis jambul asli Jepang punah pada 2003, namun kerja sama konservasi dengan China melalui program penangkaran berhasil menghidupkan kembali spesies ini.
- Pelepasliaran ini juga menjadi simbol pemulihan kawasan Noto Peninsula pascagempa dahsyat tahun 2024, sekaligus uji coba perluasan habitat di luar Pulau Sado.

Untuk pertama kalinya dalam 56 tahun, burung ibis jambul—spesies yang ditetapkan sebagai warisan alam Jepang—kembali menghuni Pulau Honshu. Delapan ekor burung langka itu dilepasliarkan di Kota Hakui, Prefektur Ishikawa, pada Minggu (31/5), menandai babak baru dalam upaya konservasi yang telah berlangsung puluhan tahun.
Kepunahan ibis jambul di daratan utama Jepang bermula dari perburuan liar dan degradasi habitat yang masif. Individu terakhir di Honshu tercatat ditangkap pada 1970, dan populasi asli Jepang dinyatakan punah pada 2003. Namun, melalui program penangkaran yang memanfaatkan burung sumbangan dari China, Kementerian Lingkungan Jepang perlahan membangun kembali populasi spesies ini di Pulau Sado, Prefektur Niigata, sejak 2008. Kini, dengan populasi sekitar 500 ekor di Sado, pemerintah memutuskan untuk memperluas jangkauan habitat ke daratan utama.
Pelepasliaran ini bukan sekadar pencapaian konservasi, melainkan juga simbol kebangkitan bagi kawasan Noto Peninsula yang porak-poranda akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter pada 1 Januari 2024. Pemerintah prefektur setempat menempatkan momen ini sebagai ikon pemulihan pascabencana, menunjukkan bahwa alam dan masyarakat mampu bangkit bersama.
Ibis jambul dikenal sebagai spesies yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Untuk menyambut kedatangan mereka, komunitas lokal telah melakukan berbagai penyesuaian, termasuk mengurangi penggunaan pestisida di sawah—langkah konkret untuk memastikan ketersediaan pangan alami burung ini, seperti serangga, katak, dan ikan kecil. Upaya ini sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Indonesia, kisah sukses Jepang dalam memulihkan spesies yang nyaris punah menawarkan pelajaran berharga. Di tengah maraknya deforestasi dan perburuan liar yang mengancam satwa endemik seperti jalak bali atau harimau sumatra, pendekatan konservasi berbasis komunitas dan kerja sama internasional menjadi kunci. Jepang membuktikan bahwa dengan komitmen politik, dukungan riset, dan partisipasi warga, spesies yang telah dinyatakan punah di alam liar pun dapat dikembalikan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan populasi ibis jambul di Honshu dapat bertahan dan berkembang biak secara mandiri. Kementerian Lingkungan Jepang berencana memantau pergerakan burung-burung tersebut melalui alat pelacak, sementara masyarakat setempat terus menjaga kualitas habitat. Pertanyaan yang menggantung: akankah langkah ini cukup untuk mencegah terulangnya kepunahan di masa depan?



