Fenomena Langka: 25 Bunga Rafflesia Mekar Serempak di Anambas, Peneliti Peringatkan Risiko Wisata Massal
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 25 titik Rafflesia ditemukan di hutan Bukit Batu Tabir, Anambas, yang mekar bergantian setiap minggu sejak 2025.
- Peneliti menyebut populasi ini sebagai 'unicorn population' karena belum pernah tercatat sebelumnya di Kepulauan Riau.
- Pemerintah setempat merencanakan ekowisata, namun pakar mengingatkan pembatasan ketat agar tidak mengulangi kegagalan konservasi di Bengkulu.

Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, tengah menjadi perhatian para peneliti dan pegiat lingkungan setelah ditemukan puluhan titik bunga Rafflesia yang mekar secara beruntun di kawasan hutan seluas 47,5 hektar. Temuan ini bukan sekadar catatan biodiversitas baru, tetapi juga menjadi ujian bagi pemerintah daerah dalam menyeimbangkan konservasi dan pariwisata.
Lokasi tersebut berada di Bukit Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan, yang hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berkendara dari pusat kota dilanjutkan 25 menit berjalan kaki. Faizal Rangkuti dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepulauan Riau mengungkapkan, terdapat 25 spot Rafflesia yang tersebar di area perbukitan dengan vegetasi alami. Menurutnya, bunga-bunga ini sebenarnya sudah ada sejak 1980-an, tetapi baru benar-benar mekar dan menarik perhatian pada 2025.
"Mulai 2025 kemarin baru benar-benar mekar dan menarik perhatian masyarakat," ujar Faizal. Ia menambahkan, kemunculan Rafflesia terjadi hampir setiap minggu, memicu antusiasme warga dan peneliti dari berbagai lembaga seperti BRIN, IPB, Universitas Riau, hingga perusahaan swasta seperti MedcoEnergi dan Pulau Bawah Resort Anambas.
Arya Arismaya Metananda, peneliti kehutanan dari Universitas Riau, menyebut temuan ini sebagai "unicorn population" atau populasi baru yang sebelumnya tidak tercatat di Anambas maupun Kepulauan Riau. "Ini merupakan pendataan baru," katanya. Selama dua pekan, ia mengidentifikasi setidaknya dua spesies Rafflesia, yaitu Rafflesia hasseltii dengan totol putih pada mahkota dan Rafflesia cantleyi. Keduanya merupakan parasit obligat yang bergantung pada inang Tetrastigma.
Habitat ideal Rafflesia, menurut Arya, adalah hutan hujan di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut dengan kelembaban tinggi, intensitas cahaya rendah hingga sedang, tanah merah kekuningan yang kaya bahan organik, serta keberadaan batuan granit. "Batuan granit juga menjadi faktor penting," ujarnya. Namun, secara ilmiah belum ada penelitian yang mengungkap penyebab menjamurnya Rafflesia di lokasi ini.
Pemerintah desa bersama petugas kehutanan kini melakukan patroli rutin secara bergantian untuk menjaga kawasan tersebut. Rencananya, kawasan ini akan ditetapkan sebagai perhutanan sosial yang dikelola oleh Desa Tarempa Selatan. Sejak dibuka untuk kunjungan edukasi pada November 2025, jumlah pengunjung terus meningkat. "Dalam satu bulan pernah hampir 300 orang datang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai sampai masyarakat umum," kata Faizal.
Meski demikian, Arya mengingatkan risiko pengelolaan wisata massal. Ia mencontohkan pengalaman di Bengkulu, di mana Rafflesia yang sempat mekar masif kemudian tidak pernah mekar kembali setelah kawasan tersebut dibuka untuk umum. "Kita harus belajar dari Bengkulu. Di beberapa lokasi yang dibuka secara umum, akhirnya bunganya tidak mekar kembali. Karena itu sekarang aksesnya dibatasi," katanya.
Ia merekomendasikan agar pariwisata di kawasan ini dikelola dalam format wisata minat khusus dengan pembatasan ketat. Pengunjung perlu diedukasi bahwa knop atau bakal bunga bisa berada di tanah, batang, atau tempat tak terduga. Larangan membawa makanan, buang kotoran sembarangan, dan merusak area sekitar harus ditegakkan. "Tidak bisa wisata massal dengan banyak orang yang akan mengancam inangnya," tegas Arya.
Penemuan Rafflesia di Anambas menjadi pengingat bahwa hutan di pulau-pulau kecil masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. "Kehadiran Rafflesia menunjukkan bahwa ekosistem hutan di Anambas memiliki kondisi habitat yang relatif baik. Kekayaan hayati di pulau-pulau kecil seperti Anambas tidak boleh diremehkan," ujar Arya. Pertanyaan besarnya, bisakah Anambas menjaga kelestarian Rafflesia tanpa mengorbankan potensi ekonominya?



