Dari Tukang Gambar Teknik hingga Matikan Legenda: Kisah Andranik Eskandarian, Bek Iran yang Mengukir Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Andranik Eskandarian, pemain amatir Iran, menjadi pahlawan dengan membawa timnya lolos ke Piala Dunia 1978 setelah mengalahkan Australia.
- Penampilannya di Piala Dunia membawanya bergabung dengan New York Cosmos, bermain bersama legenda seperti Beckenbauer dan Pele, serta sukses mematikan George Best di NASL.
- Kini berusia 74 tahun, Eskandarian menantikan Piala Dunia 2026 di AS, yang akan menjadi ajang nostalgia dan inspirasi bagi pesepakbola Iran.
Andranik Eskandarian, seorang bek tangguh yang sebelumnya hanya dikenal sebagai pemain amatir dan juru gambar teknik di Iran, mendadak namanya melambung setelah menjadi motor utama keberhasilan tim nasional Iran lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 1978. Kemenangan tipis 1-0 atas Australia di hadapan puluhan ribu penonton di Teheran tidak hanya mengubah sejarah sepak bola Iran, tetapi juga membuka pintu bagi Eskandarian untuk bergabung dengan klub legendaris New York Cosmos dan berhadapan langsung dengan ikon-ikon dunia seperti George Best.
Sebelum momen bersejarah itu, Eskandarian hanyalah pemain amatir yang bekerja sebagai juru gambar teknik. Bersama tim nasional, ia pernah meraih Piala Asia 1976 dan mencapai perempat final Olimpiade Montreal. Namun, kualifikasi Piala Dunia melawan Australia menjadi titik balik. Dalam laga play-off antarbenua yang digelar di Teheran, Iran menang tipis dan mengamankan tiket ke Argentina. Meskipun di putaran final Iran hanya meraih satu poin berkat hasil imbang 1-1 melawan Skotlandia, penampilan Eskandarian begitu menonjol. Ia sukses mematikan bintang Liverpool, Kenny Dalglish, hingga pemain Skotlandia itu ditarik keluar karena frustrasi. Sayang, dalam laga tersebut Eskandarian juga mencetak gol bunuh diri yang membuat hasil imbang harus diterima.
Penampilan gemilangnya di Piala Dunia membuat banyak klub Eropa, termasuk dari Spanyol, mulai menghubunginya. Namun, takdir membawanya ke Amerika Serikat. Eskandarian diundang bermain dalam laga all-star melawan New York Cosmos di New Jersey pada Agustus 1978. Hanya dalam satu babak, ia berhasil memikat hati manajemen Cosmos yang langsung menawarinya kontrak. "Saya bermain satu babak melawan Cosmos, lalu kembali ke hotel dan mendapat telepon yang menanyakan apakah saya mau bermain untuk klub. Jawaban saya tentu saja 'ya'," kenang Eskandarian kepada FIFA.
Bergabung dengan Cosmos menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Eskandarian bermain bersama legenda seperti Carlos Alberto, Franz Beckenbauer, Johan Neeskens, dan Giorgio Chinaglia. Ia bahkan sempat mengunjungi rumah Pele di Brasil saat tur Amerika Selatan. Selama tujuh musim di Cosmos hingga liga NASL bubar pada 1984, ia meraih dua gelar juara dan merasakan bagaimana diperlakukan seperti bintang. "Saya bukan pemain populer, tapi cara mereka memperlakukan saya luar biasa. Fans memperlakukan kami seperti superstar—15.000 orang datang menonton latihan terbuka. Setiap hari adalah kenangan indah," ujarnya.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat ia ditugaskan menjaga George Best. Dalam pertandingan melawan San Jose Earthquakes, pelatih Cosmos, Eddie Firmani, meminta Eskandarian untuk mematikan Best. "Best adalah pemain luar biasa, tapi saya salah satu pemain tercepat di tim sebagai bek. Dia mencoba segalanya, tapi saya terus merebut bola darinya dan dia tidak senang," cerita Eskandarian. Best bahkan sempat pindah ke lini tengah dan bek, namun Eskandarian menolak mengikutinya ke posisi bek. "Tidak ada pemain yang suka bermain melawan saya. Istri saya bilang, 'Kamu bermain seperti binatang!'".
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Eskandarian memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang pemain amatir bisa menembus level tertinggi dunia melalui kerja keras dan momen tepat. Perjuangan Iran yang saat itu masih amatir namun mampu bersaing di Piala Dunia menjadi inspirasi bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk terus bermimpi. Eskandarian sendiri kini berusia 74 tahun dan menjalani kehidupan tenang dengan mengelola toko perlengkapan olahraga di New Jersey. Ia sering didatangi penggemar yang ingin bernostalgia tentang masa kejayaan NASL dan meminta tanda tangan. Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Eskandarian tak sabar menyaksikan tim-tim terbaik dunia berlaga. "Setiap Piala Dunia itu indah," katanya. Pertanyaannya, akankah ada lagi pemain Iran—atau bahkan Indonesia—yang mampu mengulangi jejaknya?



