Diaspora Kunci: Al-Hamadi dan Iqbal Bawa Irak ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Irak untuk pertama kalinya dalam 40 tahun lolos ke Piala Dunia setelah mengalahkan Bolivia di play-off, dengan kontribusi gol dari Ali Al-Hamadi dan Aymen Hussein.
- Pelatih Graham Arnold mengandalkan pemain diaspora seperti Al-Hamadi (Ipswich) dan Zidane Iqbal (Utrecht) untuk memperkuat skuad, sementara Dario Naamo didepak meski baru debut.
- Di Grup I, Irak akan menghadapi Norwegia, Prancis, dan Senegal di Amerika Serikat dan Kanada, sebuah tantangan berat bagi tim yang minim pengalaman panggung dunia.

Irak akhirnya mengakhiri penantian panjang selama empat dekade dengan memastikan tiket ke Piala Dunia 2026, setelah mengandalkan gol-gol dari pemain diaspora seperti Ali Al-Hamadi dan Zidane Iqbal dalam kemenangan play-off atas Bolivia. Kepastian itu sekaligus menandai kebangkitan sepak bola Irak yang kini diperkuat oleh pemain-pemain yang lahir dan besar di luar negeri.
Pelatih asal Australia, Graham Arnold, telah mengumumkan 26 pemain yang akan berlaga di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dalam skuad tersebut, nama Ali Al-Hamadi—penyerang Ipswich Town yang lahir di Liverpool dari keluarga pengungsi Irak—menjadi sorotan. Ia menjadi pemain Irak pertama yang tampil di Premier League saat membela Ipswich pada 2024, sebelum dipinjamkan ke Luton Town di League One musim lalu. Bersama Aymen Hussein, Al-Hamadi mencetak gol kemenangan 2-1 atas Bolivia di laga play-off yang digelar di Meksiko.
Zidane Iqbal, gelandang kelahiran Manchester yang sempat menembus tim utama Manchester United dan tampil di Liga Champions, juga masuk dalam skuad. Kini berusia 23 tahun, Iqbal memperkuat Utrecht di Belanda dan menjadi salah satu pemain kunci di lini tengah Irak. Namun, keputusan Arnold mencoret Dario Naamo, bek Dundee United yang baru saja beralih loyalitas dari Finlandia, menimbulkan kejutan. Naamo baru melakukan debut dalam laga uji coba melawan Andorra pekan lalu.
Selain Al-Hamadi dan Iqbal, Arnold juga memanggil Ahmed Qasem, gelandang Nashville SC yang sebelumnya membela Swedia. Qasem juga menjalani debut internasionalnya pada laga yang sama. Kehadiran para pemain diaspora ini menunjukkan strategi Irak untuk memanfaatkan pemain keturunan yang berkembang di kompetisi Eropa dan Amerika.
Irak tergabung di Grup I bersama Norwegia, Prancis, dan Senegal. Pertandingan pertama akan berlangsung di Boston melawan Norwegia, lalu menghadapi Prancis di Philadelphia, dan ditutup melawan Senegal di Toronto. Grup ini jelas berat bagi Irak yang minim pengalaman di turnamen sebesar Piala Dunia. Namun, semangat diaspora dan dukungan penuh dari federasi diharapkan bisa menjadi modal berharga.
Bagi Indonesia, kisah Irak menjadi cermin bagaimana pemain diaspora dapat memperkuat tim nasional. Dengan banyaknya pemain keturunan Indonesia yang bermain di Eropa, strategi serupa bisa menjadi jalan untuk meningkatkan daya saing Garuda di kancah internasional. Pertanyaan besarnya, akankah PSSI mampu meniru kesuksesan Irak dalam memanfaatkan potensi diaspora?



