Kebakaran di Tambora: Lansia dengan Gagal Ginjal Tetap Jalani Cuci Darah di Pengungsian
Baca dalam 60 detik
- Seorang lansia korban kebakaran di Jakarta Barat harus tetap menjalani hemodialisis dua kali seminggu di tengah keterbatasan posko pengungsian.
- Dinas Kesehatan DKI Jakarta memastikan layanan cuci darah tidak terputus dengan menyediakan ambulans dan koordinasi dengan rumah sakit rujukan.
- Kondisi posko yang kurang memadai menjadi sorotan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7276654/original/013763400_1780061752-IMG-20260529-WA0060_1__1_.jpg)
Seorang perempuan berusia 65 tahun yang menjadi korban kebakaran di Tambora, Jakarta Barat, harus tetap menjalani terapi cuci darah rutin meski rumahnya ludes dilalap api dan ia kini tinggal di posko pengungsian. Peristiwa ini menyoroti kerentanan pasien penyakit kronis saat bencana melanda.
Kebakaran yang menghanguskan rumah di Jalan Krendang Barat pada pekan lalu memaksa Sofi, anak korban, dan ibunya mengungsi ke Musala Al-Hikmah. Sang ibu telah enam bulan menjalani hemodialisis akibat komplikasi gagal ginjal dan jantung. Jadwal cuci darahnya setiap Rabu dan Sabtu tidak boleh terlewat, karena dapat mengancam nyawa.
"Awalnya saya panik, semua obat dan dokumen penting ikut terbakar. Tapi Alhamdulillah, Dinas Kesehatan langsung bergerak. Besok ibu sudah dijadwalkan cuci darah di RS Sumber Waras dengan ambulans dari posko," ujar Sofi saat ditemui di lokasi pengungsian, Jumat (29/5).
Petugas Puskesmas Kecamatan Tambora, dr. Sendy, mengatakan pihaknya menerapkan sistem jemput bola untuk menjangkau seluruh pengungsi. "Kami datang langsung, periksa keluhan, obati luka, dan beri obat. Jika ada yang perlu penanganan lanjutan, kami rujuk ke rumah sakit," jelasnya. Untuk pasien cuci darah, koordinasi dengan Pusat Krisis dan Kegawatdaruratan Daerah (PK3D) memastikan mobilisasi menggunakan ambulans.
Meski layanan medis darurat berjalan, Sofi menyoroti kondisi posko yang kurang ideal untuk pemulihan kesehatan ibunya. "Semoga pemerintah lebih perhatikan lansia dan anak-anak di pengungsian. Susu balita dan popok juga masih kurang," harapnya. Ia menambahkan, kondisi kesehatan ibunya sempat menurun drastis akibat syok melihat rumah hangus terbakar.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Sosial dan Puskesmas setempat terus mendata ulang dokumen kependudukan yang musnah serta memenuhi kebutuhan logistik. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan bencana perkotaan harus menyertakan protokol khusus bagi pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan berkelanjutan.
Ke depan, perlu ada standar operasi tetap yang lebih jelas untuk memastikan kelangsungan terapi seperti cuci darah bagi pengungsi, termasuk ketersediaan obat dan alat medis di posko. Tanpa itu, risiko komplikasi dan kematian pada kelompok rentan bisa meningkat drastis saat bencana.



