Vaksin Kanker Personal Moderna-Terapi Keytruda Tekan Risiko Melanoma Hingga 59% dalam Lima Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kombinasi vaksin mRNA personal intismeran autogene dengan Keytruda menurunkan risiko metastasis jauh melanoma hingga 59% dalam lima tahun pascaoperasi.
- Tingkat kelangsungan hidup keseluruhan mencapai 92,2% pada kelompok terapi kombinasi, jauh melampaui 71,3% pada kelompok Keytruda saja.
- Temuan fase 2b ini membuka jalan bagi uji fase 3 yang lebih luas, namun tantangan produksi dan biaya masih perlu diatasi.

Terobosan dalam penanganan melanoma ganas muncul dari uji klinis fase 2b yang memadukan vaksin kanker mRNA personal besutan Moderna dengan imunoterapi Keytruda (pembrolizumab) buatan Merck. Hasil yang dipresentasikan dalam Pertemuan Tahunan American Society of Clinical Oncology (ASCO) 2026 di Chicago menunjukkan bahwa kombinasi ini mampu menurunkan risiko penyebaran kanker ke organ jauh hingga 59% dalam kurun waktu lima tahun setelah operasi, dibandingkan dengan pemberian Keytruda sendirian.
Melanoma, meski hanya mencakup sebagian kecil dari kasus kanker kulit, tergolong paling mematikan karena kemampuannya bermetastasis dengan cepat. Di Amerika Serikat, diperkirakan 234.680 kasus baru akan terdiagnosis pada 2026. Kekambuhan dalam lima tahun pertama pasca-terapi masih menjadi momok utama, sehingga pendekatan baru yang mampu memperpanjang masa bebas penyakit sangat dinantikan.
Vaksin yang diberi nama intismeran autogene (sebelumnya mRNA-4157/V940) ini dirancang secara personal dengan memanfaatkan informasi genetik dari tumor masing-masing pasien. Setelah tumor diangkat, peneliti mengidentifikasi neoantigen—protein unik yang hanya muncul pada sel kanker—lalu menyandikannya ke dalam molekul mRNA. Vaksin kemudian “melatih” sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan sel-sel yang membawa perubahan tersebut. Berbeda dengan vaksin pencegahan, vaksin kanker bersifat terapeutik, diberikan setelah diagnosis untuk memperkuat respons imun tubuh terhadap penyakit yang sudah ada.
Menurut Janice Mehnert, MD, profesor di NYU Grossman School of Medicine dan peneliti senior studi ini, vaksin bersifat “tumor informed” karena neoantigen berasal dari tumor individu pasien. “Kami memberikan terapi anti-PD-1 yang empiris dan terstandarisasi bersama vaksin personal, menghasilkan terapi yang benar-benar dipersonalisasi,” jelasnya. Sementara itu, Matteo Carlino, ahli onkologi dari Melanoma Institute Australia, menambahkan bahwa upaya sebelumnya untuk meningkatkan efektivitas anti-PD-1 dengan penghambatan pos pemeriksaan ganda justru memicu toksisitas imun yang lebih tinggi. “Dalam studi kami, kombinasi tidak meningkatkan efek samping imun, bahkan angkanya sedikit lebih rendah,” ujarnya.
Data terbaru ini memperkuat temuan sebelumnya yang menunjukkan penurunan risiko kekambuhan atau kematian sebesar 49% pada tahun kelima, konsisten dengan data tiga tahun yang dilaporkan pada 2023. Menariknya, respons imun yang diinduksi vaksin tetap berfungsi hingga lima tahun, menandakan terbentuknya memori imun jangka panjang yang mampu mencegah kekambuhan. “Ini temuan yang bermakna secara klinis—setidaknya pada hasil fase 2 ini, kami melihat perbaikan nyata dibandingkan standar perawatan yang ada,” kata Mehnert.
Meski hasilnya menjanjikan, uji coba ini masih tergolong kecil dan belum dipublikasikan di jurnal peer-review. Uji fase 3 bernama INTerpath-001 sudah mulai merekrut pasien untuk melanoma, dan studi serupa tengah berlangsung untuk kanker paru non-sel kecil, karsinoma sel ginjal, dan kanker kandung kemih. Namun, tantangan produksi menjadi kendala utama: setiap dosis vaksin harus dibuat khusus dari sampel tumor individu, memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Mehnert mengakui bahwa proses pengiriman tumor ke pabrik dan pembuatan vaksin memakan waktu, meski pasien dan dokter umumnya ingin terapi segera dimulai. “Kami—peneliti dan produsen—bekerja sama untuk memperlancar alur kerja ini,” ujarnya. Carlino menambahkan bahwa kapasitas produksi kini terus diperluas untuk memenuhi permintaan jika vaksin mendapat persetujuan.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka secercah harapan di tengah meningkatnya kasus kanker kulit akibat paparan sinar UV yang tinggi di daerah tropis. Meski data epidemiologi melanoma di Indonesia masih terbatas, tren global menunjukkan perlunya kewaspadaan. Jika uji fase 3 berhasil dan biaya produksi dapat ditekan, terapi personal berbasis mRNA berpotensi menjadi opsi bagi pasien melanoma stadium lanjut di tanah air. Namun, infrastruktur genomik dan regulasi obat personal masih perlu diperkuat sebelum teknologi ini dapat diadopsi secara luas. Pertanyaan besarnya: akankah sistem kesehatan Indonesia siap menyambut era pengobatan kanker yang semakin presisi?



