Bobot Investasi: Miliarder Tanpa Gelar yang Raup Untung 1.000% dari Saham Bioteknologi
Baca dalam 60 detik
- Bob Duggan, pengusaha tanpa latar belakang akademis tinggi, meraup keuntungan lebih dari 1.000% dari saham Summit Therapeutics setelah data uji klinis obat kanker Ivonescimab melampaui Keytruda.
- Kekayaan Duggan melesat menjadi US$16 miliar, namun tantangan uji coba global dan efek samping obat masih membayangi prospek Summit.
- Kisah Duggan menyoroti peluang investasi di sektor bioteknologi yang berisiko tinggi, relevan bagi investor Indonesia yang mulai melirik pasar saham global.

Bob Duggan, seorang pengusaha berusia 80 tahun yang tidak menyelesaikan pendidikan tinggi, kembali membuktikan bahwa naluri bisnis bisa mengalahkan gelar akademis. Lewat investasinya di Summit Therapeutics (SMMT), nilai portofolionya melonjak lebih dari 1.000% setelah uji coba fase akhir menunjukkan obat kanker Ivonescimab buatan perusahaan itu mengungguli Keytruda, obat blockbuster produksi Merck, pada pasien kanker paru-paru.
Duggan, yang sebelumnya telah menjadi miliarder, kini diperkirakan mengantongi kekayaan sekitar US$16 miliar (Rp243 triliun). Namun, keberhasilan ini bukan tanpa risiko. Summit Therapeutics melisensikan Ivonescimab dari perusahaan bioteknologi China, Akeso, pada 2022, dan efektivitas obat tersebut masih harus diuji dalam uji coba global di luar China. Para analis memperingatkan bahwa mekanisme kerja ganda Ivonescimab—menghambat PD-1 dan VEGF—dapat menimbulkan efek samping serius, mengingat obat anti-VEGF sebelumnya kerap memicu masalah keamanan.
Ini bukan kali pertama Duggan mencetak sukses di industri bioteknologi. Dua dekade lalu, ia berinvestasi di Pharmacyclics, perusahaan pengembang obat kanker Imbruvica, yang akhirnya diakuisisi AbbVie senilai US$21 miliar. Nathan Vardi, penulis buku For Blood and Money, menilai bahwa meskipun banyak yang menganggap Duggan hanya beruntung, kemampuannya membaca kapan harus bertahan atau keluar dari investasi menjadi kunci. Pengalaman Duggan di berbagai sektor, mulai dari roti hingga robotika, memberinya perspektif unik sebagai orang luar yang berani mengambil langkah tidak konvensional.
Bagi investor Indonesia, kisah Duggan memberikan gambaran tentang potensi dan risiko investasi di sektor bioteknologi. Pasar modal Indonesia masih didominasi saham konvensional seperti perbankan dan komoditas, namun minat terhadap saham global mulai meningkat, terutama di kalangan investor milenial. Keberhasilan Duggan menunjukkan bahwa dengan riset mendalam dan toleransi risiko tinggi, keuntungan luar biasa bisa diraih. Namun, volatilitas saham bioteknologi juga sangat tinggi—setelah lonjakan harga, Summit Therapeutics diperkirakan masih akan berfluktuasi tajam seiring pasar mencerna data keamanan dan efektivitas obat.
Para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan Ivonescimab masih jauh dari pasti. Uji coba global diperlukan untuk memastikan obat ini aman dan efektif pada populasi pasien yang lebih luas. Summit juga harus bersaing di pasar PD-1 yang sudah jenuh dengan pemain besar seperti Merck dan Bristol-Myers Squibb. Manajemen perusahaan dan strategi desain uji coba akan menjadi faktor penentu. Dengan semua sorotan tertuju pada Duggan dan Summit, pertanyaan besarnya adalah: akankah Ivonescimab menjadi game changer atau hanya secercah harapan yang meredup?



