Tes Darah Alzheimer pada Usia 53-69 Tahun Mampu Deteksi Dini Penurunan Kognitif
Baca dalam 60 detik
- Studi di The Lancet menemukan bahwa tes darah biomarker Alzheimer pada orang dewasa paruh baya (rata-rata 61 tahun) dapat mengidentifikasi risiko penurunan kognitif hingga 4 kali lipat.
- Hanya 6% partisipan yang memiliki kadar protein beta-amyloid dan tau tinggi, namun mereka menunjukkan penurunan signifikan dalam memori verbal dan kecepatan pemrosesan dalam lima tahun.
- Deteksi dini ini membuka peluang intervensi gaya hidup dan terapi sebelum kerusakan otak permanen terjadi, meski hasil positif belum tentu berarti demensia.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal The Lancet mengungkapkan bahwa tes darah untuk mendeteksi biomarker Alzheimer dapat membantu mengidentifikasi penurunan kognitif dini pada orang dewasa paruh baya yang belum didiagnosis demensia. Temuan ini membuka jalan bagi intervensi pencegahan yang lebih awal dan terarah.
Penelitian yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH) AS ini menganalisis data dari lebih dari 1.300 partisipan dalam studi CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults) dengan usia rata-rata 61 tahun. Sekitar 6% dari mereka memiliki kadar tinggi protein beta-amyloid dan tau dalam darah—dua penanda utama penyakit Alzheimer. Kelompok ini menunjukkan performa lebih rendah dalam tes kecepatan pemrosesan dan fungsi eksekutif. Dalam evaluasi lima tahun kemudian, mereka yang memiliki biomarker tinggi berisiko 2,5 hingga 4 kali lebih besar mengalami penurunan cepat dalam memori verbal, dan 3 hingga 4 kali lebih besar dalam kecepatan pemrosesan.
“Tes positif tidak umum, tetapi jika positif, terkait dengan kognisi yang lebih buruk dan penurunan yang lebih besar dibandingkan mereka yang negatif,” kata Kristine Yaffe, MD, profesor di University of California-San Francisco (UCSF) dan penulis senior studi ini. Ia menambahkan bahwa semakin banyak orang akan meminta tes ini, terutama dengan adanya iklan langsung ke konsumen. “Kami tidak ingin membuat orang panik, tetapi jika positif, berikan panduan untuk menurunkan risiko penurunan kognitif, dan mungkin di masa depan pertimbangkan obat baru untuk Alzheimer.”
Megan Glenn, PsyD, neuropsikolog klinis di Hackensack Meridian Neuroscience Institute, menyambut baik temuan ini. Menurutnya, penelitian ini merupakan langkah maju dalam deteksi dini yang dapat diakses publik. “Kita tahu bahwa perubahan kognitif halus dan akumulasi amiloid dimulai puluhan tahun sebelum diagnosis demensia formal. Studi ini membantu kita mendeteksi fase praklinis tersebut,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa memiliki biomarker Alzheimer tidak berarti seseorang pasti akan mengalami demensia. “Amiloid seperti kayu bakar, bukan api—ia menyiapkan panggung, tetapi tidak menjamin perkembangan kecuali ada faktor lain seperti tau.”
Dung Trinh, MD, internis dan kepala medis Healthy Brain Clinic di California, menekankan bahwa tes darah ini dapat membuat rekomendasi gaya hidup menjadi lebih konkret. “Pasien sering mendengar ‘olahraga lebih banyak’ atau ‘kontrol tekanan darah’, tetapi itu terasa abstrak. Dengan bukti biomarker, percakapan tentang kesehatan otak menjadi lebih personal dan mendesak,” katanya. Ia menambahkan bahwa hasil positif tidak berarti demensia, tetapi menunjukkan perlunya mengelola faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti tekanan darah, kolesterol, diabetes, aktivitas fisik, merokok, sleep apnea, depresi, gangguan pendengaran, isolasi sosial, dan nutrisi.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat meningkatnya jumlah lansia dan prevalensi demensia. Meskipun tes biomarker belum tersedia luas di tanah air, kesadaran akan faktor risiko modifikasi—seperti hipertensi dan diabetes yang banyak diderita masyarakat—dapat ditingkatkan. Deteksi dini melalui tes darah sederhana di masa depan bisa menjadi alat skrining yang terjangkau, asalkan diimbangi dengan edukasi yang tepat agar tidak menimbulkan kecemasan berlebihan.
Ke depan, para peneliti berharap tes ini dapat diintegrasikan ke dalam praktik klinis rutin, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko lain. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan siapa yang benar-benar akan berkembang menjadi demensia. Seperti diingatkan Glenn, “Tujuan deteksi dini bukan untuk membuat pasien takut, tetapi memberi mereka kendali untuk mencegah kerusakan sebelum terjadi.”



