Hidup di Bawah Terik 48 Derajat: Ketika Waktu Berhenti di Distrik Terpanas India
Baca dalam 60 detik
- Distrik Banda di Uttar Pradesh, India, mencatat suhu 47-48 derajat Celsius selama lebih dari sepekan, memaksa warga mengubah total ritme hidup.
- Aktivitas ekonomi seperti pasar dan konstruksi berhenti pada siang hari; pekerja beralih ke jam kerja ekstrem pagi dan sore untuk menghindari sengatan panas.
- Penelitian memperkirakan gelombang panas ekstrem di Uttar Pradesh bisa menyebabkan lebih dari 8.000 kematian berlebih, dengan kelompok miskin dan lanjut usia sebagai korban utama.

Di Banda, Uttar Pradesh, matahari pukul enam pagi sudah bersinar seperti tengah hari. Distrik ini menghabiskan lebih dari sepekan di peringkat teratas sebagai wilayah terpanas di India, dengan suhu menetap di 47–48 derajat Celsius. Bagi dua juta penduduknya, sebagian besar bekerja di luar ruangan sebagai petani, buruh bangunan, atau sopir, panas ekstrem bukan sekadar berita cuaca—melainkan kenyataan yang membentuk ulang setiap sendi kehidupan.
Pasar sayur Atarra, yang dulu ramai hingga siang, kini sepi sebelum pukul delapan pagi. Pedagang seperti Himanshu bergegas menjual tomat dan cabai sebelum sinar matahari memperpendek umur simpan dagangan. "Satu kotak tomat harus laku hari ini atau besok. Dalam cuaca begini, tidak akan bertahan," katanya. Pola yang sama terjadi di seluruh Banda: jam kerja dipadatkan, aktivitas ekonomi menyusut, dan waktu istirahat paksa di tengah hari menjadi kebiasaan baru.
Pappu Verma, seorang tukang batu, kini bekerja dari pukul tujuh pagi hingga tengah hari, lalu melanjutkan lagi pukul empat sore hingga tujuh malam. Empat jam di antaranya ia habiskan menunggu panas mereda. "Upahnya tetap sama, delapan jam. Tapi kalau terus-terusan di bawah terik, kepalaku pusing. Lebih baik berhenti sebentar, daripada nanti uang habis untuk obat," ujarnya. Istirahat paksa ini justru memperpanjang hari kerjanya menjadi 12–13 jam.
Di bawah jembatan Sungai Ken, tiga perempuan pekerja jalanan duduk berlindung di bawah naungan tangki air. Makan siang mereka hanya roti, bawang, dan acar. "Kalau bawa sayur, pasti busuk sebelum tengah hari," kata Shanti Devi, salah satu dari mereka. Kalimatnya menggambarkan nasib jutaan warga miskin di Banda: "Orang miskin tidak punya kemewahan untuk khawatir tentang panas."
Para peneliti menyebut Sungai Ken sebagai pusat masalah. Penambangan pasir dan pengambilan air tanah secara berlebihan telah mengurangi kemampuan sungai untuk mendinginkan lingkungan sekitar. Akibatnya, terjadi lingkaran setan: kekurangan air memperparah panas, dan panas memperparah kekeringan. Data dari Banda University of Agriculture and Technology menunjukkan seperenam hutan lebat di distrik itu lenyap antara 1991 dan 2022 akibat pertambangan dan perluasan lahan pertanian. Pohon yang hilang digantikan beton dan pasir yang menyerap serta memancarkan panas.
Dinesh Sah, meteorolog dari universitas yang sama, mengatakan suhu 48–49 derajat Celsius sebenarnya pernah terjadi sebelumnya. Namun, yang baru tahun ini adalah durasinya. "Selama delapan atau sembilan hari, suhu 47–48 derajat tidak pernah turun. Itulah yang belum pernah terjadi sebelumnya," jelasnya. Panas juga bertahan hingga malam hari, dengan suhu sekitar 30 derajat Celsius, membuat tubuh penduduk tidak pernah benar-benar mendingin. "Rasanya pagi dan malam sudah tidak ada lagi," keluh Sah.
Di Desa Achharaund, perjuangan warga lebih pada air ketimbang suhu. Sebuah sumur tunggal menjadi sumber air minum utama. Kranti Vishwakarma, 18 tahun, menghabiskan empat hingga lima jam setiap hari untuk mengambil air. Saat listrik padam di siang hari, ia berlindung di bawah pohon neem. "Kami tidak punya kipas angin atau AC. Pohon neem adalah pendingin ruangan kami," katanya. Di dekatnya, Chunubadi, 80 tahun, duduk di samping kipas meja yang diikat dengan tali. Kipas itu masih berputar, tapi hanya mengeluarkan udara panas dan kering. "Dalam 80 tahun, saya belum pernah melihat panas seperti ini. Orang tua mati di musim dingin atau panas ekstrem. Saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan kali ini," ujarnya.
Adaptasi warga Banda memang luar biasa, tapi para ilmuwan mengingatkan bahwa ini bukanlah solusi. Penelitian Piyush Narang dan Ashok Gadgil dari University of California, Berkeley, memperkirakan Uttar Pradesh bisa mencatat lebih dari 8.000 kematian berlebih selama gelombang panas lima hari yang parah. Beban terbesar jatuh pada lansia, pekerja luar ruangan, dan rumah tangga tanpa akses pendingin yang memadai. "Kami sudah terbiasa," kata para pekerja jalanan sambil memperingatkan pengunjung tentang risiko sengatan panas. Namun, kebiasaan tidak berarti aman. Ketika hujan dan badai debu akhirnya turun pada Jumat lalu, suhu turun 8–9 derajat, dan Banda bernapas lega—setidaknya untuk sementara. Pertanyaannya, berapa lama lagi warga bisa bertahan sebelum adaptasi berubah menjadi bencana?



