Persib Kena Sanksi FIFA, Deputy CEO Buka Suara: Bukan Soal Gaji
Baca dalam 60 detik
- FIFA menjatuhkan larangan registrasi pemain baru kepada Persib Bandung terkait sengketa kontrak mantan pemain Daisuke Sato pada 2023.
- Manajemen Persib memastikan sanksi ini tidak terkait tunggakan gaji dan tidak mengganggu persiapan tim maupun agenda klub.
- Klub tengah menyelesaikan kewajiban administratif dan optimistis status transfer ban dapat dicabut dalam waktu dekat.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6718601/original/053413600_1779534644-BL1_1283__1_.jpg.jpeg)
Persib Bandung resmi masuk dalam daftar larangan pendaftaran pemain FIFA hanya beberapa hari setelah merayakan gelar juara, memicu spekulasi di kalangan bobotoh dan pengamat sepak bola nasional. Namun, manajemen klub memastikan sanksi tersebut tidak akan mengganggu stabilitas tim maupun rencana pengembangan ke depan.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, mengklarifikasi bahwa larangan transfer ini berasal dari satu kasus spesifik: penyelesaian terminasi kontrak mantan pemain asal Filipina, Daisuke Sato, pada tahun 2023. Menurut Adhitia, perkara tersebut telah diketahui dan diikuti prosesnya sejak awal oleh pihak klub.
“Persoalan ini bukan terkait penunggakan gaji pemain ataupun bentuk pengabaian terhadap hak-hak pemain sebagaimana yang mungkin dipersepsikan oleh sebagian pihak,” ujar Adhitia dalam keterangan resmi, Sabtu (30/5/2026). Ia menegaskan bahwa Persib selalu berkomitmen menjalankan tata kelola sepak bola yang baik dan mematuhi regulasi nasional maupun internasional.
Adhitia menjelaskan bahwa saat ini Persib sedang menyelesaikan kewajiban yang menjadi bagian dari keputusan FIFA dan menindaklanjuti proses administratif yang diperlukan. Setelah kewajiban itu tuntas, klub akan melanjutkan tahapan sesuai mekanisme FIFA agar status transfer ban dapat ditinjau kembali dan dicabut. Ia optimistis proses ini tidak akan berlarut-larut.
Lebih lanjut, Adhitia memastikan bahwa situasi ini tidak memengaruhi aktivitas operasional klub. Persiapan tim, program kerja, dan berbagai agenda strategis yang telah dirancang tetap berjalan sesuai target. “Kami ingin memastikan kepada seluruh bobotoh, mitra, dan masyarakat sepak bola Indonesia bahwa situasi ini tidak memengaruhi stabilitas maupun arah pengembangan klub,” tegasnya.
Manajemen Persib memandang sengketa kontraktual dan persoalan administratif sebagai bagian dari dinamika yang lazim dalam ekosistem sepak bola profesional global. Yang terpenting, menurut Adhitia, adalah adanya itikad baik, tanggung jawab, dan komitmen untuk menyelesaikan setiap persoalan secara profesional. Klub memilih bersikap terbuka kepada publik agar para pendukung mendapatkan pemahaman yang utuh.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa klub-klub Liga 1 harus semakin cermat dalam mengelola kontrak pemain asing. Sanksi FIFA, meskipun bersifat sementara, dapat menghambat pergerakan klub di bursa transfer dan memengaruhi daya saing di kompetisi regional. Persib, sebagai salah satu klub terbesar di Tanah Air, diharapkan dapat menjadi contoh dalam penyelesaian sengketa secara transparan dan profesional.
Ke depan, publik akan menunggu seberapa cepat Persib dapat menyelesaikan kewajibannya dan mencabut sanksi tersebut. Apakah langkah administratif ini akan berdampak pada rencana perekrutan pemain baru untuk musim depan? Ataukah Persib sudah memiliki strategi jangka panjang yang tidak terganggu oleh sanksi sementara? Jawabannya akan menentukan apakah Maung Bandung tetap kompetitif di kancah nasional maupun Asia.



