Arif Satria Peringatkan Hilirisasi Tambang Jangan Andalkan Teknologi Usang
Baca dalam 60 detik
- Kepala BRIN Arif Satria menegaskan industri pertambangan harus mengadopsi teknologi masa depan dalam program hilirisasi, bukan sekadar solusi jangka pendek.
- Investasi besar di sektor tambang berisiko sia-sia jika menggunakan peralatan yang cepat usang mengingat siklus pembangunan pabrik yang panjang.
- BRIN mendorong kolaborasi riset untuk melakukan proyeksi teknologi hingga 2040 demi menjaga daya saing Indonesia di pasar global.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengingatkan bahwa program hilirisasi dan industrialisasi di sektor pertambangan tidak boleh lagi bergantung pada teknologi jangka pendek yang rentan menjadi usang di tengah percepatan inovasi global. Pernyataan itu disampaikan dalam acara BRIN Goes To Industry 5 bertajuk "Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan" di Jakarta, Selasa (23/7/2026).
Menurut Arif, kekeliruan dalam memilih teknologi dapat membuat investasi bernilai besar menjadi tidak optimal. Ia mencontohkan, pembangunan pabrik atau fasilitas industri biasanya memakan waktu dua hingga tiga tahun. Jika perencanaannya hanya berdasarkan kebutuhan saat ini, maka saat pabrik selesai dibangun, teknologinya sudah ketinggalan zaman. "Jangan sampai kita melakukan kegiatan industrialisasi dan investasi yang berbasis pada teknologi jangka pendek," tegasnya dalam sambutan.
Arif menjelaskan bahwa lompatan teknologi global saat ini berlangsung sangat cepat. Oleh karena itu, desain riset dan rancangan pabrik hilirisasi harus melibatkan imajinasi futuristik, bukan sekadar aspirasi jangka pendek. Ia meminta ekosistem industri pertambangan melakukan pemetaan tren teknologi setidaknya untuk dua dekade mendatang. "Kita harus menggunakan kecerdasan buatan, para ahli, serta kemampuan membaca tren global sehingga kita paham teknologi apa yang akan dipakai ke depan," ujarnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, BRIN siap mengambil peran strategis dalam membantu industri melakukan peramalan teknologi. Lembaga riset ini menargetkan mampu memetakan instrumen-instrumen yang relevan di sektor pertambangan dan energi dalam beberapa dekade mendatang. Sinergi erat antara periset dan pelaku usaha diharapkan membuat proses hilirisasi mineral Indonesia berjalan lebih efektif, memiliki daya saing tinggi, dan tidak terus tertinggal dari negara maju.
Implikasi dari arahan ini sangat signifikan bagi Indonesia, yang tengah gencar mendorong hilirisasi nikel, bauksit, dan tembaga. Investasi di sektor tambang mencapai puluhan miliar dolar, sehingga pemilihan teknologi yang tepat menjadi krusial. Jika industri masih menggunakan peralatan konvensional, dikhawatirkan produk Indonesia akan sulit bersaing di pasar global yang semakin menuntut efisiensi dan ramah lingkungan. Sebaliknya, adopsi teknologi masa depan seperti otomatisasi, Internet of Things (IoT), dan pengolahan berbasis AI dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana industri tambang nasional mampu berkolaborasi dengan lembaga riset untuk menerjemahkan proyeksi teknologi menjadi aksi nyata. Dengan tenggat waktu yang semakin pendek, langkah konkret diperlukan agar hilirisasi tidak hanya berhenti pada peningkatan nilai tambah, tetapi juga menjamin keberlanjutan investasi di era disrupsi teknologi.



