Luca Williams-Barnett, 'Harry Kane Baru' yang Bersinar di Pramusim Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur masih berjuang menggantikan Harry Kane, dengan hanya mencetak 48 gol di Premier League musim lalu.
- Pemain muda Luca Williams-Barnett (17) tampil menonjol di pramusim, dianggap sebagai bakat terbaik akademi sejak Kane.
- Williams-Barnett, yang dijuluki 'salah satu talenta terbaik Inggris' oleh scout, diprediksi jadi ikon baru Spurs dalam beberapa tahun ke depan.

Dua kekalahan beruntun di Premier League musim lalu membuat Tottenham Hotspur sadar: krisis gol belum berakhir. Namun, di tengah perburuan striker anyar, muncul secercah harapan dari akademi sendiri. Luca Williams-Barnett, remaja 17 tahun, menjelma menjadi bintang pramusim dan disebut sebagai 'Harry Kane baru' yang ditunggu.
Kehilangan Kane tiga musim lalu bagai mimpi buruk yang belum usai. Tottenham pernah finis di posisi 17 dua musim beruntun, meski sempat mencetak 64 gol di bawah Ange Postecoglou. Namun musim 2025/26 menjadi tragedi: hanya 48 gol, jauh dari ketajaman Kane yang mengoleksi 61 gol di semua kompetisi. Dominic Solanke, yang diandalkan, hanya mencetak 6 gol akibat cedera. Richarlison pun menjadi top skor dengan 12 gol—angka yang tak cukup untuk tim sekelas Spurs.
Manajer Roberto De Zerbi pun bergerak. Prioritas awal adalah memperkuat lini belakang, tapi kini mereka memburu striker baru, termasuk Eli Junior Kroupi dari Bournemouth. Namun, di balik hiruk-pikuk transfer, ada wajah segar yang sudah siap: Luca Williams-Barnett. Gelandang serang yang baru sekali tampil di tim utama itu menjadi sorotan setelah dua laga pramusim melawan MK Dons dan Auckland FC.
Penampilannya melawan MK Dons menjadi bukti. De Zerbi memainkannya sebagai gelandang dalam—posisi yang tak biasa—namun ia tak gentar. Enam dribel sukses dan tiga umpan kunci mengundang decak kagum. “Dia adalah salah satu talenta terbaik Inggris di level junior,” ujar Ben Mattinson, pencari bakat Como. Tak hanya piawai mengatur serangan, ia juga memiliki naluri mencetak gol, terbukti dari 16 gol di usia muda.
Lantas, apa bedanya dengan Kane? Kane adalah 'slow burner' yang butuh masa peminjaman sebelum bersinar. Sebaliknya, Williams-Barnett sudah siap sejak dini. Jika ia terus berkembang, bukan tidak mungkin ia menjadi ikon baru Tottenham dalam beberapa tahun. Untuk penggemar sepak bola Indonesia yang rajin mengikuti Premier League, nama ini patut dicatat—mungkin ia akan menjadi bintang di layar kaca yang sama seperti Kane dulu.
Pertanyaan besarnya: apakah De Zerbi berani memberinya menit bermain reguler musim ini? Atau, seperti banyak talenta muda lainnya, ia akan dipinjamkan? Jawabannya akan menentukan apakah Tottenham akhirnya menemukan penyelamat di tengah krisis gol.



