Harga Selangit Charles, Leeds Incar Titraoui yang Lebih Murah dan Produktif
Baca dalam 60 detik
- Leeds United gagal tiga kali tawaran untuk Shea Charles (harga £25 juta) dan kini mengincar Yassine Titraoui yang lebih murah (£8,5 juta).
- Titraoui, gelandang Aljazair berusia 23 tahun, memiliki pengalaman bermain reguler di liga Belgia dan catatan statistik bertahan yang lebih baik.
- Persaingan merebut Titraoui melibatkan Hull City dan Olympiacos, menuntut Leeds bergerak cepat.

Leeds United mengalihkan incaran gelandang tengah ke pemain Aljazair Yassine Titraoui setelah tiga tawaran untuk Shea Charles ditolak Southampton. Keputusan ini diambil klub Championship asal Yorkshire itu mengingat banderol Charles yang mencapai £25 juta dinilai tak sebanding dengan pengalaman menterengnya di level tertinggi.
Shea Charles, gelandang asal Irlandia Utara berusia 22 tahun, hanya mencatatkan 27 menit bermain di Premier League sepanjang kariernya. Meski tampil 38 kali di Championship musim 2025/26 dengan torehan enam gol dan dua assist, statusnya belum menjadi pilihan utama di Southampton. Angka tersebut membuat manajer Daniel Farke dan pemilik klub yang dijuluki 49ers enggan memaksakan diri menebus mahar yang diminta.
Sebagai gantinya, Leeds mengarahkan radar ke Yassine Titraoui, gelandang Sporting Charleroi yang digadang-gadang memiliki potensi lebih besar. Pemain berusia 23 tahun itu sudah mengoleksi 2.904 menit bermain di kasta tertinggi Belgia musim lalu, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan Charles. Menurut laporan media Yunani Sport24, Charleroi mematok harga sekitar £8,5 juta dan telah menolak tawaran awal Leeds serta Hull City. Kini Olympiacos dikabarkan mulai bernegosiasi, menambah tekanan bagi The Whites.
Dari sisi ofensif, Titraoui juga unggul. Ia mencatatkan expected assist (xA) lebih tinggi dan jumlah gol yang tak kalah dari Charles. Gelandang Aljazair ini juga lebih efektif dalam memutus serangan lawan tanpa melakukan pelanggaran berlebihan. Konsistensi yang ditunjukkan selama dua musim terakhir membuatnya layak disebut sebagai gelandang bertahan lengkap. Bagi Leeds, mengamankan Titraoui bukan hanya soal menghemat dana, tetapi juga mendapatkan pemain yang siap tempur di lini tengah.
Keputusan Leeds ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap tergiur membeli pemain mahal tanpa melihat porsi bermain. Efisiensi bursa transfer, seperti yang dilakukan Leeds dengan beralih ke pemain dengan statistik lebih meyakinkan, patut ditiru. Apakah klub-klub Liga 1 berani menerapkan langkah serupa di bursa mendatang?
Langkah Leeds selanjutnya akan menjadi kunci. Dengan Olympiacos yang sudah memasuki tahap negosiasi, The Whites harus segera mengajukan tawaran kedua yang sesuai dengan valuasi Charleroi. Jika tidak, gelandang muda berbakat asal Aljazair itu bisa lenyap dari pelukan mereka, meninggalkan Daniel Farke kembali ke titik awal.



