Wabah Tikus Landa Australia, Petani Terjepit Biaya dan Gangguan Psikologis
Baca dalam 60 detik
- Populasi tikus di Australia Barat dan Australia Selatan mencapai ribuan ekor per hektar, jauh melampaui ambang wabah 800 ekor per hektar.
- Petani merugi hingga ratusan ribu dolar untuk membasmi hama yang juga mengganggu kesehatan mental karena tikus masuk ke rumah dan tempat tidur.
- Otoritas Australia akhirnya menyetujui penggunaan umpan beracun dengan dosis lebih kuat setelah berbulan-bulan petani mendesak.

Petani di Australia Barat dan Australia Selatan kini menghadapi wabah tikus terparah dalam beberapa tahun terakhir, dengan populasi hama yang diperkirakan mencapai ribuan ekor per hektar. Kondisi ini memaksa mereka mengeluarkan biaya tambahan hingga ratusan ribu dolar untuk membasmi tikus yang melahap tanaman dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Menurut laporan dari para ahli, wabah ini dipicu oleh panen raya tahun lalu yang meninggalkan banyak sisa biji-bijian di ladang, ditambah dengan hujan musim panas yang memicu pertumbuhan tunas hijau. "Tikus mendapatkan steak dan salad sekaligus," ujar Belinda Eastough, seorang agronomis dan petani di Nolba, sekitar 80 km timur laut Geraldton. Di ladang kanolanya, ia memperkirakan ada 8.000 hingga 10.000 tikus per hektar—setara dengan luas lapangan rugby.
Steve Henry, peneliti dari badan sains nasional Australia CSIRO, menjelaskan bahwa ambang wabah biasanya 800 tikus per hektar. Namun di Australia Barat, jumlahnya mencapai ribuan. Dalam kunjungan terbarunya, ia menghitung 30 hingga 40 liang aktif tikus dalam jarak 100 meter, yang jika dikalikan berarti setidaknya 3.000 hingga 4.000 liang per hektar. "Ini masalah monumental karena saat ini adalah waktu krusial bagi petani," kata Henry.
Dampak ekonomi tidak hanya berasal dari biaya pembelian umpan, tetapi juga dari kerusakan langsung. Tikus memakan benih yang baru ditanam, memaksa petani menanam ulang dan menghabiskan waktu berharga. Geoff Cosgrove, petani di Mingenew, mengatakan ia baru dua kali melakukan pemasangan umpan dalam 25 tahun bertani, tetapi wabah tahun ini jauh lebih parah daripada tahun 2021. "Mereka bermain dengan pikiran Anda—berlarian di malam hari, di langit-langit, di unit AC. Anda bisa mendengar dan mencium baunya, seperti mayat membusuk," keluhnya.
Selain kerugian materi, wabah ini juga berdampak psikologis. Henry menekankan bahwa petani tidak bisa beristirahat karena tikus tetap ada di dalam rumah, bahkan di tempat tidur. "Jika Anda menghadapi kekeringan, Anda bisa masuk ke rumah, menutup pintu, dan menyalakan AC. Tapi dengan tikus, Anda masuk ke rumah, dan tikus ada di lemari," ujarnya. Damian Ryan, petani pensiunan di Morawa, mengaku menangkap puluhan tikus setiap hari di rumah dan gudangnya, dan menyebut ini yang terburuk dalam 50 tahun.
Setelah berbulan-bulan menunggu, regulator nasional akhirnya menyetujui penggunaan umpan beracun dengan dosis lebih kuat. Langkah ini disambut baik oleh petani, meskipun mereka masih harus menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk akibat perang Iran. "Kami membayar dua kali lipat untuk bahan bakar dibandingkan dua atau tiga bulan lalu," kata Eastough. "Masalah tikus ini menjadi beban tambahan di atas kepala."
Dengan datangnya musim dingin dan suhu yang lebih dingin, beberapa petani melaporkan penurunan jumlah tikus. Namun, mengingat kemampuan reproduksi tikus yang luar biasa—mulai berkembang biak pada usia enam minggu dan bisa melahirkan setiap tiga minggu—wabah ini belum sepenuhnya terkendali. Pertanyaannya, apakah umpan baru dan cuaca dingin cukup untuk menghentikan siklus ini sebelum musim tanam berikutnya?



