Denda Rp140 Juta dari Komdis PSSI: PSS Sleman Jadikan Sanksi sebagai Bahan Evaluasi Menuju Super League
Baca dalam 60 detik
- Komite Disiplin PSSI menjatuhkan denda total Rp140 juta kepada PSS Sleman akibat pelanggaran suporter pada final Pegadaian Championship 2025/2026.
- Sanksi terbesar Rp125 juta diberikan karena penyalaan flare dan petasan, sementara Rp15 juta untuk pelemparan benda ke lapangan.
- PSS Sleman menerima sanksi sebagai evaluasi dan berkomitmen meningkatkan kesadaran kolektif menjelang debut di Super League 2026/2027.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/3132864/original/069059100_1589892045-PSS.jpg)
Komite Disiplin PSSI menjatuhkan denda sebesar Rp140 juta kepada PSS Sleman menyusul serangkaian pelanggaran yang terjadi saat final Pegadaian Championship 2025/2026. Keputusan ini diterima klub sebagai konsekuensi profesional dan dijadikan momentum evaluasi internal menjelang keikutsertaan mereka di Super League musim depan.
Insiden tersebut berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 9 Mei 2026, saat PSS mengalahkan Garudayaksa FC. Euforia kemenangan yang mengantarkan promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia ternoda oleh aksi suporter yang melanggar regulasi. Berdasarkan data Komdis, total 16.456 penonton hadir dalam laga tersebut.
Denda pertama senilai Rp15 juta dikenakan akibat pelemparan benda ke area lapangan. Obyek yang dilempar meliputi dua botol air mineral dari tribune barat, tiga botol dari tribune timur, serta paper roll dalam jumlah besar dari tribune selatan. Sementara itu, sanksi terbesar mencapai Rp125 juta karena penyalaan flare dan petasan dalam jumlah besar oleh suporter di empat tribune setelah pertandingan usai.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (29/5/2026), manajemen PSS menegaskan menghormati keputusan Komdis sebagai bagian dari tanggung jawab dalam kompetisi profesional. Mereka menyadari bahwa antusiasme suporter lahir dari rasa cinta dan kebanggaan atas keberhasilan tim kembali ke Super League. Namun, klub juga menggarisbawahi pentingnya menjaga ketertiban dan kepatuhan terhadap regulasi.
Pelanggaran ini menjadi perhatian serius Komdis PSSI karena dinilai membahayakan keamanan dan ketertiban pertandingan. Meskipun terjadi dalam euforia promosi, tindakan tersebut tetap dianggap melanggar disiplin kompetisi. PSS berharap kejadian ini menjadi pembelajaran penting menjelang bergulirnya Super League 2026/2027. Manajemen mengajak seluruh elemen—suporter, panitia pelaksana, stakeholder, hingga masyarakat—untuk bersama-sama membangun kesadaran kolektif dalam menciptakan atmosfer pertandingan yang aman dan tertib.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa euforia tidak boleh mengorbankan aspek keamanan dan regulasi. Dengan semakin ketatnya pengawasan Komdis PSSI, klub-klub yang akan berlaga di Super League harus memastikan pengelolaan suporter yang lebih baik. Pertanyaannya, apakah langkah evaluasi PSS Sleman ini cukup untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan?



