Scooter Braun Buka Pintu Rekonsiliasi dengan Kanye West: 'Setiap Orang Berhak atas Kesempatan Kedua'
Baca dalam 60 detik
- Mantan manajer Kanye West, Scooter Braun, menyatakan kesediaannya berdialog demi membantu proses pemulihan sang rapper setelah permintaan maaf publik atas pernyataan antisemit.
- Braun mengaku sempat kecewa berat karena latar belakang keluarganya yang terkait Holocaust, namun ia percaya pada prinsip memberi kesempatan bagi perubahan dan pertumbuhan pribadi.
- Di balik kontroversi, Braun tetap mengagumi sisi genius Kanye, terutama dalam inovasi tur dan merchandise yang mengubah industri musik.

Scooter Braun, eksekutif musik yang pernah menjadi manajer Kanye West pada 2016–2018, menyatakan keterbukaannya untuk kembali berkomunikasi dengan sang rapper demi membantu proses "penyelamatan dan pertumbuhan" pribadinya. Pernyataan ini muncul setelah Kanye West secara resmi meminta maaf melalui iklan satu halaman penuh di Wall Street Journal awal tahun ini, di mana ia mengaitkan tindakan kontroversialnya dengan episode manik yang berkepanjangan.
Dalam wawancara dengan Suzy Weiss di podcast Second Thought, Braun mengakui bahwa pernyataan antisemit yang dilontarkan Kanye sangat mengganggunya, terutama karena latar belakang keluarganya yang menjadi korban Holocaust. "Beberapa hal yang ia katakan sangat tidak pantas dan membuat frustrasi. Itulah sebabnya kami mungkin sudah lama tidak berbicara," ungkap Braun. Meski demikian, ia menegaskan prinsipnya untuk selalu percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. "Saya sendiri pernah tumbuh dalam situasi tertentu dan ingin orang lain memberi saya empati serta kesempatan untuk berubah. Tidak adil jika saya tidak memberikan hal yang sama kepada orang lain."
Braun juga menyoroti sisi genius Kanye yang ia saksikan langsung selama bekerja sama. Salah satu momen paling berkesan adalah saat persiapan tur Pablo pada 2016. Kanye, dengan ponselnya, berjalan di bawah panggung untuk memastikan bagaimana penonton akan merekam dan menyebarkan pertunjukan di internet. "Dia melihat visi itu sebelum orang lain," kenang Braun. Ketika Braun mendesak perlunya merchandise untuk tur, Kanye justru menolak karena belum ada desain yang memuaskan. Alih-alih, ia bersama Virgil Abbloh mendesain kaos bertuliskan 'admission' dengan tanggal pertunjukan—yang kemudian menjadi kaos terlaris dan memecahkan rekor penjualan merchandise.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah ini mengingatkan pada dinamika industri hiburan global yang seringkali diwarnai kontroversi dan rekonsiliasi. Di tengah maraknya isu kesehatan mental di kalangan artis, sikap Braun yang mengedepankan empati dan kesempatan kedua bisa menjadi refleksi. Namun, pertanyaan tetap menggantung: apakah permintaan maaf Kanye cukup tulus untuk membangun kembali kepercayaan publik, terutama dari komunitas yang pernah disakitinya?
Braun sendiri mengaku belum berbicara langsung dengan Kanye, namun ia membuka pintu untuk dialog pribadi. "Saya ingin percaya bahwa permintaan maaf itu nyata. Tapi saya belum mengalaminya sendiri secara pribadi. Namun, saya ingin memberi siapa pun manfaat keraguan," tutupnya. Ke depan, publik akan menanti apakah langkah rekonsiliasi ini benar-benar terjadi atau hanya menjadi wacana tanpa realisasi.



